Kamis , November 23 2017
Home / Diary / 10 Menit di Ruangan Bang Acad

10 Menit di Ruangan Bang Acad

Bang Acad. | Facebook
Bang Acad. | Facebook

Semula saya ingin menuliskan ini di web tempat saya bekerja, jejamo.com. Apalagi sejak menerima kabar itu, jejamo.com paling dahulu memposting berita soal wafatnya mantan Sekda Kota Bandar Lampung Sjachrazad ZP ini. Namun, karena ini kenangan pribadi, saya tuangkan dalam blog ini saja.

Bang Acad, demikian ia biasa disapa. Pribadi yang hangat, terbuka, dan ceplas-ceplos. Sejujurnya saya tidak punya pengalaman lama dengan beliau. Mungkin, andaipun kami bertemu semasa dia masih hidup, barangkali ia lupa. Ya karena saya hanya satu kali bertemu dengan dia di ruangannya semasa almarhum menjadi Sekda. Wali Kota Bandar Lampung kala itu, tahun 2000, adalah Suharto.

Tahun itu saya masih aktif di Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Lampung. Ini adalah media massa kampus tingkat fakultas. Saya menjadi redaktur pelaksana waktu itu. Pemimpin umumnya Igo Febrianto dan pemimpin redaksinya Esti Malasofia. Keduanya juga satu almamater dengan saya di SMAN 2 Bandar Lampung.

Tahun itu, akan diadakan pemilihan wali kota karena masa bakti Suharto mau berakhir. Bang Acad sudah keluar suara mau ikut pemilihan. Saat rapat redaksi saya mengusulkan supaya diadakan debat kandidat bakan calon wali kota. Saya bilang, belum ada organisasi lain yang mengadakan.

“Kita bedah visi ekonominya,” ujar saya.

Tentu masih agak kurusan ya. Rambut belah tengah dan celana kain jadi ciri khas. Kalau sekarang meski bertambah umur, saya merasa semakin ganteng. Ini wujud syukur nikmat saya kepada Allah. Laju serius bacanya, selow geh.

Lanjut ya ceritanya. Igo awalnya tidak sepakat. Dia khawatir agenda ini mengganggu penerbitan karena kerjaan utama kami yang bikin majalah, bikin buletin, dan sebagainya. Tapi saya meyakinkan bahwa debat kandidat ini pasti menarik dan bisa kita jadikan berita.

Esti mendukung. Suci mendukung. Kawan-kawan lain juga mendukung. Igo akhirnya maklum. Panitia dibentuk dengan Farid sebagai ketua pelaksana. Urusan mengundang para kandidat diserahkan kepada saya.

Selain Suharto dan Bang Acad, ada beberapa nama waktu itu yang sudah menyatakan siap bersaing. Ada nama Kepala Bapedalda Lampung Rahmat Abdullah, notaris Choirul Anom, Kepala Dispenda Provinsi Lampung M Farid, dan anggota DPRD Lampung MC Iman Santoso atau biasa disapa Mas Wiwik.

Bang Acad seingat saya adalah yang terakhir saya temui. Saya ingat seorang karib, Mona Monica Andriani namanya, adalah keponakan Bang Acad. Mona adalah anak Atu Ayi, kakak kandung Bang Acad.

“Babe kalau ke kantor Om Acad itu pagi, pasti ketemu,” kata Mona.

“Babe” di sini ejaannya kayak orang Betawi manggil bapaknya ya. Bukan “Babe” kayak manggil “Beib” kepada orang kesayangan, hehehe. Sejak SMA dan menjadi ketua OSIS SMAN 2 Bandar Lampung, hampir semua kawan panggil sama Babe atau Si Bapak. Sampai guru aja manggil saya Babe atau SI Bapak. Tua banget kan gua waktu itu, hahaha.

Saya ikuti pesan Mona. Proposal saya bawa, termasuk permohonan bantuan dana. Semua bakal calon waktu itu kami sodorkan list donatur untuk acara. Maklum acara kampus dan dana kampus tidak begitu signifikan.

Pagi hari saya sudah ngetem di Pemkot Bandar Lampung. Ruangan Bang Acad di lantai dua. Saya menunggu persis di sisi kiri ruangan. Sekitar jam delapan pagi, Bang Acad keluar ruangan mengantar tamu. Rupanya sejak pagi sudah ada tamu di ruangan beliau. Begitu ia mau masuk, saya setengah berteriak.

“Bang Acad.”

Beberapa protokol melihat saya. Mungkin pikir mereka, enggak sopan amat orang ini. Saya enggak ambil pusing. Saya mendekati dan mengajaknya bersalaman.

“Saya Adian Saputra, Bang. Dari majalah Pilar Ekonomi Unila. Saya mantan ketua OSIS Smanda Bang. Kawan akrabnya Mona, anak Atu Ayi.”

“Oh.. ya ya. Masuk, masuk, Adian.”

Saya masuk ke ruangan ber-AC. Saya duduk persis di depan beliau terhalang meja kerja.

“Gimana, Adian. Ada yang bisa Abang bantu.”

“Bang, Pilar mau mengadakan debat kandiodat wali kota. Abang kan mau maju. Topiknya bedah visi ekonomi kandidat.”

“Gitu ya.”

“Iya, Bang .”

Saya kemudian sodorkan surat permohonan kehadiran.

“Abang belum bisa, Adian. Bukan enggak mau. Ada yang Abang kerjakan juga. Maaf ya. Lanjut aja bedah kandidatnya. Abang dukung.”

Saya menghela napas sejenak.

“Ini apa?” tanya Bang Acad.

“List untuk donatur acara, Bang.”

“Abang bantu sebisa Abang ya.”

Bang Acad membuka dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.

Udah gak usah ditulis,” kata dia.

Saya menerima donasi itu dan mohon pamit. Waktu kami ngobrol mungkin hanya 10 menit. Dan itu adalah perjumpaan pertama sekaligus yang terakhir untuk sesi tatap muka secara khusus.

Bang Acad kemudian mengantar saya sampai ke pintu ruangannya dan kami pun bersalaman.

Saat menerima kabar wafatnya Bang Acad hari ini, Sabtu, 11 Maret 2017, saya teringat kenangan 17 tahun silam. Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Selamat jalan Bang Acad. Semoga amal salehmu diterima Allah Swt. Allahummagh firlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu.(*)

About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Ilustrasi Amien Rais pada buku saya Menulis dengan Telinga. Ilustrasi dibikin teman saya Tri Purnajaya. | Dok Pribadi

Lima Menit Menahan Panas Bodi Mobil Tumpangan Amien Rais

Nama Amien Rais dalam beberapa hari belakangan mengemuka. Dalam berita yang kita simak di media …

2 comments

  1. mantap babeh tulisannya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com