Selasa , April 24 2018
Home / Opini / Cantik-Cantik Jurnalisme Lipstik

Cantik-Cantik Jurnalisme Lipstik

Contoh artikel soal reporter cantik di jejamo.com. | Ist
Contoh artikel soal reporter cantik di jejamo.com. | Ist

Sejak marak portal berita internet, sesuatu yang remeh temeh bisa menjadi berita. Bahkan, termasuk disukai. Sesuatu yang dahulu tak punya sesuatu untuk menjadi berita, dengan perkembangan media dunia maya, menjadi punya nilai berita. Yang paling kelihatan ialah sesuatu yang cantik. Perempuan tentu saja, masak iya laki-laki.

Beberapa waktu lalu kita membaca banyak artikel ringan soal sesuatu yang cantik. Ada penjual getuk yang cantik bernama Ninih. Ia kemudian dikenal. Saat didandani bak model dan difoto juru foto profesional, Ninih tak seperti penjual getuk. Ia seperti supermodel.

Ada juga Sasa Darfika, penjaga sebuah warung tegal alias warteg. Wajahnya? Ya jelas cantik. Karena itu ia diburu banyak pewarta. Mungkin, buat si empunya wajah, merasa biasa-biasa saja. Namun, buat lensa mata para jurnalis, itu menjadi nilai berita. Karena unik. Karena ada sisi “bertolak belakang”. Lantaran jarang ada penjaga warung tegal yang cantik.

Kalau model, artis, selebriti, sosialita itu cantik, biasa banget. Saban hari wajah mereka melintasi layar televisi dan di koran kita bisa baca kehidupan mereka. Namun, jika si cantik ini berasal dari luar ranah infotainment, baru luar biasa. Maka, fenomena Ninih dan Sasa menjadi pemantik maraknya yang cantik-cantik di media massa. Wabilkhusus media laman daring. Meski begitu, media cetak juga menempatkan ini pada porsi yang lumayan. Sehingga, menjadi tren bacaan semua orang.

Jejamo.com tempat saya bekerja sekarang, juga sesekali menulis soal ini. Misalnya seperti dalam foto artikel ini, adalah Boenga Mandalawangi, reporter cantik asal Pringsewu. Ia juga menjadi sosok yang menarik karena boleh dikatakan cantik. Dan pekerjaannya sebagai reporter, cukup menarik untuk diulas, dikomparasi dengan kecantikan yang ia miliki.

Apakah ini salah? Insya Allah tidak. Media massa punya fungsi edukasi dan hiburan. Ia mewartakan sesuatu yang bisa berdampak kepada publik. Mungkin nadanya serius, tapi ini penting. Berita-berita serius, apalagi yang cantelannya peristiwa, pasti banyak peminat. Khususnya soal bad news. Entah soal pembunuhan, korupsi pejabat, kebakaran, dan sebagainya.

Menghibur bukan berarti tak memberikan makna atau sesuatu yang bersifat khazanah tentang sesuatu yang baru. Termasuk soal yang cantik-cantik tadi dalam ranah yang umumnya langka dijumpai yang kinclong dan bening di ruang-ruang semacam itu. Maka, memang menjadi menarik ada Ninih penjual getuk cantik dan Sasa penjaga warteg yang cantik.

Unik, ya unik. Menarik, ya menarik. Cantik, sudah tentu. Dan ini tetap menjadi alasan buat pengelola media massa menjadikannya objek liputan. Ketika di Bandar Lampung ada sosok Nisa, penjaga pompa bensin cantik di SPBU Jalan Wolter Mongonsidi, media massa, online dalam hal ini, juga menuliskannya.

Dalam batas-batas tertentu, sesuatu yang disajikan proporsional tentu saja sedap dinikmati. Ketika saban hari bacaan koran kita adalah berita-berita kriminal, membaca sesuatu yang cantik menjadi sebuah oasis. Kita menemukan sesuatu yang baru. Kita menikmati ceruk yang lain. Dan itu sesuai dengan kepribadian kita sebagai manusia biasa. Manusia yang jiwanya memang menyukai perihal yang cantik (buat laki-laki) dan tampan untuk kaum Hawa.

Dan fenomena ini pasti menemui pasang surutnya. Mungkin beberapa bulan lalu dan sampai sekarang, fenomena itu masih sering kita jumpai. Kita masih membaca perihal yang kinclong-kinclong. Ada polisi cantik, lurah cantik, dan sebagainya. Bahkan, jika kita jeli, perihal istri Gubernur Lampung Aprilani Yustin Ficardo saja marak diberitakan. Meski newspeg-nya ada pada peristiwa tertentu, kecantikan Aprilani tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja.

Barangkali, jika Aprilani tidak jelita, kita tak bakal menyaksikannya diundang pada acara Hitam Putih di Trans7 yang dipandu presenter terkenal Deddy Corbuzier. Itu membuktikan, pada ranah lokal saja, sesuatu yang cantik itu bisa menjadi berita. Menjadi oasis, melengkapi senarai bacaan kita pada ihwal-ihwal yang relatif “berat”.

Uniknya, perihal Aprilani ini, bukan media lokal yang lebih dahulu mengangkatnya, melainkan media online nasional. Karena marak, baru wadyabala media di Lampung ikut menuliskan profil istri Gubernur Ridho Ficardo ini. Dan apakah itu salah? Apakah pembaca tak menyukainya?

Tentu tidak salah dan pembaca pasti menyukai. Wabilkhusus Aprilani, ia tak saja memenuhi unsur keunikan sebagai istri gubernur paling cantik se-Indonesia, barangkali juga sedunia. Namun, dari sisi keterkenalan, ia memang layak menjadi objek pemberitaan. Jurnalisme tetap berkelindan di sini.

Kita barangkali tidak menyadari, sedikit banyak pasti ada pengaruhnya terhadap objek yang diberitakan. Lagu Keong Racun pernah melambungkan Sinta-Jojo sehingga mereka kerap diundang televisi. Keduanya relatif terbilang cantik. Dari diudang televisi sampai main iklan, pastilah pundi uang mereka bertambah.

Setidaknya, akses mereka untuk menjajal dunia hiburan makin terbuka meski itu tak dilakukan. Soal mereka kini tenggelam dan anak zaman sekarang mungkin tak kenal, itu poin lain.

Yang ingin disampaikan tentu saja, imbas pemberitaan media massa tetap saja ada buat Ninih, Sasa, Nisa, dan cantik-cantik lainnya. Mereka dikenal, diwawancarai, diberi sesi di televisi, dan diberikan honor. Tentu signifikan buat mereka. Andaipun mereka tetap dengan pekerjaan semula dan enggan “memanfaatkan” kecantikannya, itu sikap pribadi mereka yang perlu dihargai.

Dengan redaksi lain, sedikit banyak pasti ada pengaruh sebuah pemberitaan terhadap objek liputan. Entah dia cantik atau tidak. Entah berita hard, entah berita soft.

Jurnalisme memang tidak mengenal diksi berikutnya pasca-lema “jurnalisme” itu sendiri. Jurnalisme yang jurnalisme yang menghadirkan fakta, memverifikasinya dengan disiplin, memberikan ruang kritik publik, dan menyajikannya secara menarik, serta ditingkahi kerendahatian pewartanya. Diksi cantik yang dipadupadankan di sini sehingga menjadi “jurnalisme lipstik” sekadar frasa untuk menjadikannya diskursus meski dalam tataran yang ringan.

Ia tetap menarik jika disajikan proporsional. Cantik tetap indah dibaca dan dinikmati jika porsinya pas dan tak berlebihan. Dan selama ini, menurut penulis, masih dalam ranah itu. Sehingga, masih bisa dinikmati dengan selera tinggi. Bahwa ia adalah bagian dari produk jurnalistik yang unik, menarik, dan …cantik.(*)

About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Pelatihan menulis buku hasil Sensus Ekonomi 2016 BPS Lampung. | Dokumentasi Aprilia Nurita Sari

Mengubah Angka Statistika Menjadi Buku yang Enak Dibaca

Sejujurnya ini tugas yang berat. Belum pernah dalam pengalaman mengisi pelatihan menulis, saya merasa memiliki …

37 comments

  1. nyimak

  2. Nengah Dwi Agustina

    Minyak KPI E

  3. jadi pengen jadi jurnalistik

  4. Dita Ayu Sarasssita

    mantulll

  5. Minyak ehh nyimak

  6. Zenia Wandita KPI E, nyimak

  7. Tulisan yang cantik, ditulis oleh bukan yang cantik karena bukan perempuan. Hehe… Kak Adian ini, apa aja bisa jadi bahan tulisan. Keren. Oia kalau sempat jangan sungkan berkunjung dan meninggalkan jejak di http://www.pelangisalju.blogspot.co.id. Kalau dibanding dengan blog Kak Adian, gak ada apa-apanya tapi tolong dikunjungi ya, Kak. Please.

  8. Mantap dah, kalau mengulas yang cantik-cantik
    Beberapa lembar lagi mungkin masih bisa nih :)

  9. Saya termasuk yang penasaran dengan Nisa di pom bensin itu bang. Besoknya langsung isi bensin di sana 😀

  10. saya baru tahu ada nisa di pom bensin Wr Monginsidi ….saya gak pernah perhatiin juga kayaknya..hahahaha…. hal yang ringan kalo pakai analisa keren.. kece bang dian saputra.

  11. Tulisannya keren2. Informatif dan cetar membahana. Keep spirit ya, Bang!

  12. Itu kenapa yang komen namanya Adian semua, sih, wkwkwk…

    Btw koki di basement dekat mushola Hotel Horison kemarin juga cantik, Bang. Patutlah sekali2 di wawancarai 😀

  13. Semoga ke depan makin produktif deh

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com