Rabu , Juni 20 2018
Home / Opini / Cara Memasarkan Potensi Daerah lewat Media Online

Cara Memasarkan Potensi Daerah lewat Media Online

Workshop promosi potensi daerah. | Andi Apriyadi/Jejamo.com
Workshop promosi potensi daerah. | Andi Apriyadi/Jejamo.com

Lampung Timur dalam setahun terakhir bergerak aktif dalam rangkaian festival. Nyaris saban bulan ada saja festival yang digelar di kabupaten ini. Kepemimpinan Chusnunia Chalim menempatkan pariwisata sebagai ihwal yang demikian penting. Satu tagline yang kini sedang hits adalah “Dari Begal ke Festival”.

Cara yang demikian massif ini memang memberikan dampak yang cukup signifikan. Pemda setempat mencatat lebih dari setengah juta orang berpartisipasi dalam rangkaian festival itu. Dan miliaran rupiah berputar pada sesi demi sesi festival yang semuanya dinikmati oleh masyarakat setempat.

Lampung Timur kini makin dikenal seantero Nusantara. Soal pro dan kontra terhadap maraknya festival adalah sesuatu yang lumrah. Yang jelas, gebrakan ini diharapkan menjadi pemicu potensi daerah Lampung Timur diketahui khalayak Indonesia.

Menyusul setelah itu Way Kanan. Dalam beberapa waktu belakangan, kabupaten ini menjadi dikenal dengan tagline “Negeri Sejuta Air Terjun”. Media massa di Lampung sempat membuat berita utama berkenaan dengan ini.

Setidaknya, nama Way Kanan kini juga mulai moncer sebagai daerah yang punya destinasi wisata unggulan.

Perihal Teluk Kiluan, Pulau Pahawang, dan sederet pantai cantik lainnya di Pesawaran, tentu sudah diketahui banyak orang. Nama-nama itu dikenal luas oleh masyarakat. Tak hanya mereka yang bermukim di Lampung, tetapi yang ada di daerah lain.

Teman-teman yang baik, adanya pemerintahan tentu punya maksud baik. Tujuan besarnya adalah masyarakat mencapai kesejahteraan dengan memaksimalkan semua potensi yang ada. Setiap kota dan kabupaten di Lampung ini punya potensinya masing-masing. Bahkan, tiap negara saja punya potensi itu. Dan setiap entitas pasti berbeda-beda.

Indonesia dan Singapura saja. Dua negara bertetanga, tapi punya ciri khas yang berbeda. Bedanya adalah Singapura sudah lebih dahulu siap menata negeri, sedangkan Indonesia belum. Tolok ukurnya mudah sekali. Kita lihat tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Bahkan, dalam peta ekonomi dunia, Singapura sudah lama dikenal sebagai negara maju.

Indonesia dengan sederet persoalan internal juga tumbuh menjadi negara yang mulai baik. Memang, progresivitasnya tidak sepesat Singapura dan mungkin negara lain. Jumlah penduduk yang demikian besar, barangkali menjadi problem tersendiri. Meski begitu, bonus demografi malah menjadikan jumlah penduduk yang besar itu sebagai satu kekuatan yang tak dimiliki negara lain.

Maka itu, teman-teman yang berada di daerah juga mesti segera mencari dan menemukan apa potensi daerah yang bisa diperkenalkan ke dunia luar. Langkah Lampung Timur itu, dalam hemat saya, adalah salah satu cara untuk menggali potensi yang demikian besar di masyarakat. Dari sana kemudian akan ketahuan potensi mana yang paling unggul dan punya dampak luas jika dikembangkan. Dampak luas di sini tentu kesejahteraan masyarakat.

Salah satu sektor penting sekarang adalah pariwisata. Ini menjadi tren yang mengglobal. Orang lebih tahan tak membeli barang dan memilih menabung untuk bisa berwisata. Istilah kerennya travelling. Mereka yang punya penghasilan yang cukup, sekarang menjadikan wisata, baik dalam bentuk destinasi maupun kuliner, sebagai sesuatu yang penting.  Pendeknya, lebih tahan tak membeli kendaraan baru asal bisa jalan-jalan ke tempat wisata, baik di dalam maupun luar negeri.

Kenapa pariwisata ini menjadi penting, karena inilah sektor yang sedang diperhatikan secara serius oleh pemerintah di semua level. Setidaknya itu yang saya perhatikan selama ini.

Deputi Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara bahkan menekankan bahwa pendapatan negara dari pariwisata bisa membuat cadangan devisa kita aman untuk sembilan bulan mendatang. Pariwisata diyakini membawa imbas yang baik terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Tahun depan, di Nusa Dua, Bali, akan ada annual meeting IMF dan Bank Dunia. Puluhan ribu orang akan terlibat dalam perhelatan akbar itu. Buat Indonesia, efek dari annual meeting itu yang diharapkan. Tentunya pada ranah pariwisata. Jika puluhan ribu orang itu berada di Bali dan membelanjakan uangnya, triliunan rupiah diprediksi ditangguk oleh masyarakat Nusa Dua dan sekitarnya. Ini membuktikan, satu ajang besar saja selalu menekankan pariwisata sebagai dampak ikutan yang dinilai bisa menaikkan pendapatan daerah.

Apa kabar dengan Lampung? Bagaimana dengan daerah yang dikaruniai alam yang indah sehingga layak menjadi destinasi wisata? Dan bagaimana  relasinya dengan media massa, dan media sosial.

Kawan-kawan yang baik, sekarang semua makin mendigital. Ojek yang dahulu hanya ada di pangkalan, sekarang sudah ada yang online. Dahulu orang mesti punya usaha di ruko, sekarang cukup dengan online shop. Market place seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, OLX, dan sebagainya makin digemari. Cobalah teman-teman ingat, sekarang lebih banyak mana membeli barang-barang seperti pakaian, ponsel, dan lainnya di toko atau toko online?

Beberapa swalayan besar tutup di Ibu Kota disinyalir karena orang sudah mulai beralih dalam hal pembelian. Sekarang kita dari ponsel saja bisa memesan apa yang kita inginkan. Layanan GoFood pada aplikasi Gojek membuat kita mudah mendapatkan kuliner tanpa perlu keluar rumah.

Dan selama kita mempunyai deposito pada GoJek yang disebut Gopay, harga yang kita bayar lebih murah, bahkan sering mendapat korting. Dan baru-baru ini saya membaca, perputaran uang Gopay itu adalah keempat yang terbesar setelah tiga bank konvensional besar di Indonesia. Luar biasa bukan? Saya menduga triliunan rupiah berputar di Gopay dan itu adalah jumlah fantastis untuk sebuah aplikasi online.

Maka itu, sekarang, setiap daerah mesti melek dengan hal yang demikian.  Setiap dinas, bahkan unit terkecil pemerintahan, mesti punya akun media sosial. Bisa itu Facebook, Twitter, Instagram, dan juga blog atau web.

Fenomena menarik mungkin Dam Raman di Kota Metro. Awalnnya  tak ada yang menggubris Dam Raman ini. Namun, saat foto pemandangan sekitar diposting dan kemudian diberikan tagar atau hashtag #damraman, orang kemudian ramai yang tahu. Tak butuh waktu lama, Dam Raman sudah hits. Sekarang makin ramai orang ke Dam Raman. Penduduk sekitar juga menangguk keuntungan dengan berjualan, mempunyai usaha perahu untuk disewakan, jasa membersihkan eceng gondok, dan sebagainya.

Ongkos publikasi yang terbilang efisien ini mesti kita manfaatkan untuk menjual potensi daerah. Buat daerah yang minim destinasi wisata, tak usah kecil hati. Ada banyak budaya, pernak-pernik, dan segala yang berkenaan dengan itu, yang bisa kita pasarkan.

Kata kuncinya adalah galilah potensi daerah masing-masing. Temukan itu semaksimal mungkin. Kemudian ajak warga berkontribusi di sana. Setelah itu, mulai digencarkan dari sisi publikasi dan pemasaran.

Akun media sosial adalah sebuah kemestian. Pajang foto potensi daerah di media sosial. Berikan narasi yang memikat. Narasi tak mesti panjang. Asal sudah terwakili, itu sudah cukup.

Masih kurang? Bikin acara kecil-kecilan. Undang teman-teman jurnalis, baik media cetak maupun elektronik, serta online. Undang pula  bloger. Jamu mereka dengan kekhasan daerah. Tidak mesti mewah. Asal dimanusiawikan, itu sudah cukup.

Pahawang, berbilang tahun yang lampau, belum seperti sekarang. Saya cukup memahami ini karena sudah lama mengikuti kiprah LSM Mitra Bentala dalam mengajak warga merehabilitasi kawasan hutan mangrove yang rusak.

Publikasi yang masif kemudian membuat Pulau Pahawang terkenal. Destinasi itu kini menjadi favorit orang yang hendak liburan. Segala aspek wisata kemudian lambat laun mulai dibenahi. Kini Pahawang sudah mematri di pikiran orang sebagai salah satu destinasi pilihan saat orang ke Lampung. Pun demikian dengan Kiluan dan beragam destinasi lain.

Usaha kuliner yang sedang bertumbuhan pun membutuhkan jasa dari mereka yang berkiprah di media massa, wabilkhusus online, serta bloger. Kenapa demikian?

Internet membantu kita menginformasikan dengan cepat. Perubahan dari media massa konvensional ke media massa baru atau lazim dikenal new media memang luar biasa. Oplah koran di mana-mana turun. Beberapa koran besar di Amerika Serikat dan Eropa sudah bermetamorfosis ke dalam bentuk digital.

Koran di Ibu Kota beberapa tutup dan berganti baju menjadi portal berita. Beberapa majalah juga dalam posisi sulit. Pengiklan kini makin masif melirik beriklan di media massa daring. Selain harganya lebih terjangkau, sebaran artikel berkenaan dengan itu juga bisa lebih banyak.

Media online atau blog tidak kesulitan menampung sebanyak apa pun artikel yang hendak disajikan. Daya jangkaunya pun lebih luas. Asal target pasar memegang gawai atau gadget, bereslah urusan itu.

Banana Foster Lampung milik artis Hengky Kurniawan juga disokong media massa dan bloger pada awal berkiprah di Lampung. Kini, gerai Banana Foster sudah ada di Metro. Peminatnya luar biasa. Follower akun mereka di Instagram pun sudah banyak. Saban waktu, ada saja variasi baru yang dikenalkan. Sehingga, publik dalam periode waktu tertentu mendapat informasi yang baru.

Selalu ada yang baru juga penting diperhatikan. Sehingga, potensi daerah yang dikenalkan tak membosankan. Kebaruan itu bisa pada penyajian foto, acara yang digelar, lomba yang diadakan, dan hal baru lainnya sehinga tidak membosankan.

Tahu anak kecil gendut nan lucu bernama Tatan? Lihat akun Instagram dia di @jrsugianto. Follower-nya 3,4 juta. Dan Tatan makin dikenal. Ia juga bintang dari emoji Line di ponsel kita. Saban hari ada saja foto atau video yang diunggah. Dan yang menonton serta memberikan tanda suka mencapai ratusan ribu orang.

Kita bisa belajar dari sini. Pa sih keunikan daerah kita. Keunikan itu yang membuat potensi itu punya pembeda yang khas. Ada sisi keunggulan komparatifnya. Kemudian, unggahlah dari potensi itu hal yang menarik. Bisa langsung merujuk pada kontan atau hal lain yang masih bersinggungan.

Misalnya, satu daerah yang semua ibu-ibu di sana membikin tapis. Jadikan itu potensi daerah. Kasih nama yang menarik. Kampung Tapis misalnya. Bikin akun di media sosial. Instagram sekarang sedang diidolakan, maka bikin akunnya. Cari foto yang paling menarik dan mewakili.

Lalu apa? Mulailah menata desa itu sehingga layak menjadi sentra tapis. Bikin aktivitas yang membuat saban hari ramai dengan aktivitas membuat tapis. Setelah memenuhi, mulai aktif di media sosial.

Postinglah foto atau video ibu-ibu tengah membuat tapis. Tapi jangan itu terus tiap hari. Harus ada variasi. Ajak anak-anak SD kunjungan ke sana. Bikin suasana semeriah mungkin. Ambil foto yang bagus dan postinglah. Potret keseruan anakl-anak SD tengah belajar membuat tapis atau melihat mereka mengagumi karya itu.

Ajak kepala daerah ke sana. Bikin acara menarik kemudian undang media massa dan bloger. Sehari Membuat Tapis Bersama  Bapak Bupati, misalnya. Bikin acara ramai. Bikin semeriah mungkin. Libatkan semua potensi di daerah itu. Semua mesti kasih kontribusi. Ajak jurnalis dan bloger merasakan eksotisme membuat tapis. Ambil fotonya, kemudian unggahlah. Jangan lupa pakai tagar atau hashtag, misalnya, @tapislampung.

Ramaikan Instagram, Facebook, dan Twitter dengan peristiwa itu. Media daring biasanya sudah naik beritanya duluan dengan durasi yang cepat dan jumlah yang lumayan banyak. Sebarkan itu. Kasih link ke semua pemangku kepentingan yang hadir.

Karena ini publikasi, promosi, dan marketing sekaligus, berikanlah informasi yang detail. Berapa harga tapis ini? Berapa lama membuatnya? Kenapa demikian lama? Apa makna guratan pada tapis itu? Nomor kontak yang bisa dihubungi jika ingin memiliki tapis ini. Dan sebagainya. Begitulah kita mengelola media sosial untuk menggerakkan potensi daerah.

Beriklan di media massa, termasuk cetak, masih cukup relevan dilakukan. Sekian persen publik Lampung  masih percaya media cetak takkan mati dengan cepat. Pembacanya masih ada. Orang yang suka masih ada. Dan nominal  bujet untuk beriklan di media cetak pun masih lebih besar ketimbang media daring.

Namun, beriklan di media online juga bisa dilakukan. Banner Anda akan terpasang 24 jam dan kita masih dibantu dengan pemberitaan.

Pengalaman dua tahun mengelola jejamo.com termasuk berpikir bagaimana meraup iklan, mengajarkan kepada kami untuk ligat mencari pasar. Kami selalu aktif membantu semua relasi dalam hal pemberitaan dan iklan. Jadi, secara keredaksian, media massa terbantu dengan konten yang baru. Dan secara pemasukan, kami terbantu dengan adanya iklan.

Iklan di media online jauh lebih terjangkau. Satu kali memasang iklan di media cetak, itu bisa satu bulan penuh di media online. Plus ditambah dengan artikel berita yang dibutuhkan untuk mendukung iklan itu. Dalam bahasa kami, itu layanan atau servis kepada pemasang iklan.

Media online juga nyaris  tak terkendala pada space atau ruang. Lebih banyak konten yang dihasilkan, itu lebih bagus. Asal servernya kuat, mau saban hari memproduksi  50 konten artikel tidak masalah. Kecuali ada lonjakan pembaca karena ada berita hits, jika server tak siap, portal itu bisa terkapar juga.

Pesan kami, untuk memaksimalkan potensi daerah sekaligus memperkenalkannya kepada semua khalayak, pandai-pandailah menggalinya. Asal sudah ketemu, kita bisa dengan enak mengelolanya. Termasuk dengan berhubungan dengan media massa, baik online maupun cetak, serta menjalin relasi dengan narablog.  Semoga bermanfaat. Tabikpun.

About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Ilustrasi. | uberestimate.com

Tarif Uber di Bandar Lampung

Sejak sebulan terakhir, warga Bandar Lampung makin mudah dan murah untuk naik taksi berbasis aplikasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com