Jumat , September 22 2017
Home / Cerpen / Cerpen: Perempuan Pelantun Selawat

Cerpen: Perempuan Pelantun Selawat

“Sholatullah salamullah ala toha Rasulillah. Sholatullah salamullah ‘ala yasin habibillah”. Lantunan selawat itu sudah sering aku dengar. Dari rumah di ujung jalan itu, lantunan kepada Kanjeng Nabi acap disimak oleh kedua gendang telinga.

Kadang pagi, kadang siang. Juga acap malam, sering pula dini hari. Yang aku tahu, lantunan itu memang disunahkan agar saat setiap muslim mati, mendapat safaat dari Kanjeng Nabi.

“Ini daging gilingnya, Umi.”

“Langsung saja diadon, Neng.”

“Ya Umi, langsung aku adon.”

Lantunan selawat kembali aku dengar. Indah sekali. Suaranya mantap. Artikulasinya lancar. Seperti mendengar bait-bait doa dalam irama yang menyenangkan.

Tangannya demikian terampil mengaduk-aduk adonan daging yang sudah digiling itu. Bumbu yang sudah disiapkan, dimasukkan ke dalam adonan. Bau khas mulai menguar. Tapi aku tak begitu memedulikan aromanya. Aku lebih mementingkan agar suara selawat itu aku nikmati sampai di pelantunnya berhenti.

“Ini tinggal direbus saja.”

“Iya, nanti aku yang rebus.”

“Subhanallah walhamdulillah wala ilaha Illallah wallahu akbar. Wala haula wala quwwata illa billahil aliyyil adhim.”

Aku melihat kuali besar itu terisi daging sebesar bola pingpong. Airnya menggelegak. Semua permukaan air panas dipenuhi daging-daging segumpalan pingpong.

Tapi, lagi-lagi, aku tidak begitu tertarik dengan benda bulat itu. Aku lebih interest dengan suara lantunan tasbih, hamdalah, tahmid, dan takbir itu.

Seingatku, hanya saat Lebaran saja suara itu aku dengar. Baik Idulfitri maupun Iduladha. Namun, kini aku menikmatinya lagi meski tidak semirip lafal saat Lebaran.

Siang ini kulihat ia agak lain. Meski di dapur dan bersobok dengan api dan asap, pakaiannya mewangi. Pun terang benderang. Sapuan pupur di wajahnya merautkan pesona luar biasa. Ia kuperhatikan memang tak begitu lekat dengan dandanan. Secukupnya saja.

Gincu yang memerahkan bibirnya pun seperti selintas kilas. Tak ada sapuan menor bak selebriti di televisi. Ia tampil sewajarnya. Entah apa gerangan siang selepas jumatan ini dandanannya sedemikian rupa.

Sayup-sayup selawat khas pelantun ini terus kudengar. Dari intonasi dan nadanya malah terdengar gembira. Seperti sedang ada yang dinanti.

“Kalau Abah menyerahkan sepenuhnya putusan kepada anak Abah.”

Hmm, ada pertemuan dua keluarga rupanya di ruang tengah. Pantas sedari tadi suara selawatan tak kudengar.

“Iya atau tidaknya, dia yang menentukan. Abah hanya bisa merestui, demikian pula ibunya.”

Kulirik, perempuan itu mengangguk-anggukkan kepala. Wajahnya agak tersipu dan tertunduk. Namun, dari semburat lesungnya, aku barangkali bisa menebak. Secepat itukah?

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Surat Ar Ruum ayat 21).

Matahari sudah mendekati khatimahnya hari ini. Setengah harian ini aku tidak melihatnya di dapur, mengadon bahan, dan merebusnya ke dalam kuali besar. Mungkin aku mesti bergeser. Sopan tidak ya.

Lamat-lamat aku dengar suara orang mengaji. Merdu sekali. Aku tak begitu hafal surat dalam Alquran yang ia baca. Yang pasti, aku menikmatinya. Sama seperti aku menikmati lantunan selawatnya saban hari.

Suaranya jernih, matang, dan enak didengar. Kadang intonasinya naik. Acap pula turun. Rima bacaannya pun menenteramkan hati. Aku mulai mengantuk.

Sudah sepuluh lembar yang ia hempaskan ke halaman berikutnya. Kadang di tengah ayat yang kudengar ada ayat berbunyi “yasjudu”, ia bersujud. Lama sekali. Halusnya sajadah yang ia pakai kukira makin membuatnya nyaman menceritakan apa saja kepada Tuhan-nya.

“Ya Rabb, penuhilah hatiku dengan nur-Mu. Berikan aku kemantapan memilih dan menerimanya ya Zat Yang Maha Bijaksana. Jika memang ia jodohku, dekatkanlah. Jika bukan, jauhkan ya Rabb. Jangan jadikan manusia menjadi penghalangku untuk beribadah kepada-Mu.”

Aha. Benar perkiraanku. Siang tadi ia dipinang rupanya. Dan malam ini ia memantapkan pilihannya usai anggukan halus lagi perlahan siang tadi. Aku heran, kenapa bisa ya dua insan yang tak sekalipun bertatapan sebelum peristiwa siang tadi, kemudian sepakat menuju altar pelaminan. Aku bingung….

Malam ini aku hanya memandanginya larut dalam rintih salat dan doa. Berkali-kali. Lama ia berdiri. Panjang pula rukuk dan sujudnya. Malah saat sepertiga malam, aku melihat matanya berair bening. Turun perlahan, makin lama makin deras. Namun, raut wajahnya penuh dengan kebahagiaan.

Lama aku tidak menikmati lantunan selawatnya dari dapur ini. Sudah beberapa hari aku tepekur sendirian. Ke mana dia? Tak rindukah ia dengan selawat? Tak inginkah ia menyenandungkannya untukku meski hanya sesaat.

“Kita enggak usah bikin bakso dulu kan, Umi.”

“Enggak usah. Kita siap-siap saja untuk hari pernikahan kamu.”

Gadis berkerudung hijau itu tersenyum manis. Sang ibu menjentikkan ujung telunjuknya ke hidung bangir anak kesayangannya itu.

“Kamu tambah cantik habis dilamar Si Aa itu.”

“Ah, Umi.”

Hari dan malam-malam selanjutnya, aku hanya bisa menikmati rekaat demi rekaat salatnya. Selawat di kala siang sudah ia alpakan. Entahlah. Kulihat memang ia sibuk luar biasa.

Usai bersih-bersih rumah, kebanyakan ia berada di luar. Sesekali teman-temannya, ada yang berhijab juga ada yang tidak, datang berkunjung. Mereka tertawa bahagia. Pemeran utamanya siapa lagi kalau bukan dia. Bercerita menjelang hari bahagia.

Entahlah jika usai hari di pelaminan itu usai. Akankah ia masih di sini? Akankah ia masih membuat gumpalan-gumpalan makanan berbahan baku daging giling itu? Dan akankah aku masih bisa menikmati selawat kepada Baginda-nya? Entahlah? Semua tanda tanya.

Beberapa jenak lagi, peristiwa paling bersejarah itu tertulis di dunia, menjadi qadar yang termaktub di Lauhul Mahfudz.

“Assalamualaikum. Iya benar. Apa! Di mana! Innalillahi wainna ilahi rajiun.”

Air mata sang ibu berderai.

“Bu! Ada apa!” Innalillahi, siapa yang meninggal.”

“Aa….kamu… Nak. Kecelakaan….Meninggal…”

Perempuan berkerudung itu kemudian luruh. Ia bersimpuh mendekati kaki ibunya.

Lisannya tak henti-henti melafalkan istigfar. Sang ibu memeluk anaknya dengan kasih. Hangat. Sesekali suara keduanya seperti tertahan karang besar. Sayup-sayup sampai.

Kullu nafsin dza iqotul maut. Setiap yang bernyawa pasti akan mati.

“Allahummagh firlahu warhamhu waafihi wa’fu anhu.”

Matanya mengeluarkan air. Sama derasnya saat ia sedang bercerita kepada Tuhan-nya di kala malam. Namun, kali ini terdengar sedih dan lirih. “Sholatullah salamullah, ala toha Rasulillah. Sholatullah salamullah ‘ala yasin habibillah.”

(Cerpen ini dikirim ke Majalah Ummi dan ditolak untuk dimuat)

 

About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Ilustrasi Amien Rais pada buku saya Menulis dengan Telinga. Ilustrasi dibikin teman saya Tri Purnajaya. | Dok Pribadi

Lima Menit Menahan Panas Bodi Mobil Tumpangan Amien Rais

Nama Amien Rais dalam beberapa hari belakangan mengemuka. Dalam berita yang kita simak di media …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com