Jumat , September 22 2017
Home / Reportase / JNE Itu Indonesia Banget, Aplikasi MyJNE Gue Banget

JNE Itu Indonesia Banget, Aplikasi MyJNE Gue Banget

Mayland Hendar Prasetyo (Head Marketing Communication JNE) memegang mikrofon, dan Fikri Al Haq Fachryana (Kepala Cabang Utama JNE Lampung) dalam kopdar blogger-JNE di Hotel Horison, 31 Agustus 2016. | Adian Saputra
Mayland Hendar Prasetyo (Head Marketing Communication JNE) memegang mikrofon, dan Fikri Al Haq Fachryana (Kepala Cabang Utama JNE Lampung) dalam kopdar blogger-JNE di Hotel Horison, 31 Agustus 2016. | Adian Saputra

Sudah lama kepengen kumpul-kumpul dengan komunitas penulis yang ada di Lampung. Peribahasa bilang, pucuk dicinta ulam pun tiba. Adalah Naqiyyah Syam yang menginisiasi lahirnya komunitas blogger Lampung. Namanya Tapis Blogger. Saya kemudian mengajukan diri untuk bergabung dengan komunitas ini. Syukurnya, direstui.

Alhamdulillah pula, aktivitas pertama komunitas itu adalah kopi darat alias kopdar bareng JNE. Naqiyyah rupanya punya relasi yang lumayan sehingga bisa dapat gebetan dari JNE. JNE lho ini, perusahaan layanan jasa pengiriman barang nomor wahid di Indonesia. Bagaimana tak dibilang nomor wahid kalau saban bulan ada 16 juta pengiriman. Berapa tuh duit yang beredar dari bisnis ini? Berapa juga tuh keluarga yang periuk nasinya ditopang dari layanan ini? Dan berapa juta orang yang bergantung dari layanan ini karena punya hajat di bidang penjualan, baik langsung maupun via media daring alias online.

Kumpul-kumpul 20 anggota Tapis Blogger dihelat pada Rabu, 31 Agustus 2016. Saya datang pas waktunya, jam empat sore. Sudah ada beberapa yang hadir. Saya waktu itu hanya kenal Yoga Pratama, anak muda perlente dengan tampilan topi pet khas seniman.

Siap-siap mau kopdaran Tapis Blogger-JNE. | Adian Saputra
Siap-siap mau kopdaran Tapis Blogger-JNE. | Adian Saputra

Kalau beberapa blogger perempuannya, kebetulan sudah saya kenal cukup lama. Sebut saja nama Naqiyyah Syam, Izzah Annisa, Fitri Restiana, dan Neny Suswati. Usai bertegur sapa, dari tanya kabar sampai ada yang bilang saya kurusan, kami pun masuk ruangan di lantai II Hotel Horison, sebuah hotel berkelas di jalan protokol kota ini: Jalan Kartini.

Ada dua pembicara utama dalam kopdar kali ini. Yang pertama Mayland Hendar Prasetyo, Head Marketing Communication JNE. Dan yang kedua, Fikri Al Haq Fachryana, Kepala Cabang Utama JNE Lampung.

Mayland dapat giliran pertama berartikulasi dengan pelantang di tangan. Cara ngomong pria ini enak didengar. Penjelasannya gamblang, contoh-contohnya jelas, dan mudah dipahami. Satu yang saya ingat, kata Mayland, JNE adalah perusahaan dengan modal asli orang Indonesia asli.

Buat saya, pengertian soal investasi anak negeri menjadi penting lantaran isu soal investasi asing sedang marak-maraknya jadi perbincangan. Mayland bicara teratur. Intonasinya enak didengar. Dalam hati saya bergumam, wajar kalau orang semacam Mayland didapuk menjadi kepala marketing dan komunikasi.

Kata Mayland, ada dua hal yang membuat JNE masih bertahan hingga kini dengan omzet miliaran rupiah. Yang pertama adalah inovasi dan yang kedua adalah tanggung jawab sosial perusahaan. Saya tahu persis, betapa JNE di Lampung memang sering mengadakan filantropi dengan menggandeng banyak lembaga zakat. Salah satunya Yatim Mandiri Lampung yang beberapa penggiatnya cukup akrab dengan saya.

Satu hal yang dibahas Maylanda secara panjang lebar adalah beberapa  inovasi yang sedang dikembangkan JNE, wabilkhusus berkenaan dengan teknologi informasi. Pendeknya, ia bilang, JNE akrab dengan internet dan pengguna ponsel pintar di Indonesia. Itu sebabnya, JNE sudah meluncurkan satu aplikasi dahsyat bertajuk MyJNE. Aplikasi ini mudah diunduh lewat ponsel berbasis Android. Dengan aplikasi ini, pelanggan akan jauh lebih mudah memantau posisi barang, mengetahui keberadaan agen terdekat, tahu secara detail tarif pengiriman barang, dan bisa membayar layanan dengan media laman daring alias online.

Tak salah kalau Mayland bilang, investasi untuk ini saja mencapai nyaris setengah triliun rupiah. Masya Allah, besar sekali. Soalnya, data yang berseliweran sebagai imbas aplikasi ini pasti besar sekali dan membutuhkan server dengan kualitas yang superbesar. Dan JNE tak sungkan-sungkan menginvestasikan ini demi kenyamanan pelanggannya.

Buat saya, aplikasi MyJNE yang dikembangkan ini memang sudah semestinya. Sebabnya, prasyarat JNE untuk mengembangkan ini memang sudah ada. Kalau kita pernah mengirim barang lewat JNE, pasti bisa membedakan dengan layanan kiriman korporasi lain.

Kemasan yang aman, kuat, tahan banting, dan kemasan menarik, menjadi noktah keunggulan JNE, jauh sebelum layanan MyJNE diluncurkan. Boleh jadi, itu yang membuat pangsa pasar layanan ini membesar dengan jutaan orang mempercayakan kiriman barangnya kepada JNE.

Mayland meringkas penjelasan MyJNE, kira-kira seperti ini.

Rekam tampilan layar mengecek kiriman barang dari Bandar Lampung ke Sidoarjo. | Adian Saputra
Rekam tampilan layar mengecek kiriman barang dari Bandar Lampung ke Sidoarjo. | Adian Saputra

Pertama, Check Tariff

Ini berguna untuk mengecek tarif kiriman JNE dari dan ke tempat tujuan. Caranya, kata Mayland, pelanggan tinggal memasukkan alamat asal, alamat tujuan, kemudian mengklik ceklist. Pascaitu, pengguna mengisi kolom panjang, berat, dan lebar barang, lalu klik ceklis. Pilihan tarif akan keluar.

Kedua, My Shipment

Ini berfungsi untuk mengetahui di mana posisi barang yang dikirim. Caranya gampang banget di MyJNE. Pengguna gawai alias gadget cukup memasukkan nomor resi atau memindai barcode resi pengiriman.

Aplikasi JNE Nearby pada MyJNE dari rekam layar ponsel pribadi. | Adian Saputra
Aplikasi JNE Nearby pada MyJNE dari rekam layar ponsel pribadi. | Adian Saputra

Ketiga, JNE Nearby

Kalau yang ini, gampangnya ngomong, untuk mengetahui di mana posisi agen JNE terdekat. Cukup klik, nanti maps akan muncul dan menunjukkan di mana lokasi agen JNE terdekat dari posisi kita sekarang.

Keempat, My COD

Ini adalah singkatan dari My Cash on Digital. Gunanya

“Ini memungkinkan pengguna melakukan pemesanan via online serta melakukan pembayaran dengan media JNE,” kata Mayland.

Supaya bisa masuk ke My COD, kita mesti melakukan Sign In dengan cara memasukkan nomor ponsel dan kata kunci. Tapi, syarat awalnya mesti Sign Up dulu kalau belum terdaftar.

Kelima, My COD Wallet

Mayland bilang, layanan ini mirip rekening. Pengguna dapat menambah, mengecek  saldo, serta rekam jejak transaksi. Sama seperti di atas, kita juga diminta Sign In atau Sign Up dulu.

Usai Mayland bicara, giliran “tuan rumah” Fikri Al Haq Fachryana, Kepala Cabang Utama JNE Lampung, yang ambil pelantang. Eh tahu pelantang kan? Mikrofon lho.. hehehehe.

Fikri lebih banyak menjelaskan soal pelayanan JNE dikaitkan dengan pangsa pasar yang besar di Lampung. Fikri menuturkan, pelaku usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM di Lampung, belum banyak yang memanfaatkan jasa online. Padahal, banyak pengusaha di daerah lain yang memproduksi produk khas, baik makanan maupun cenderamata kemudian memasaraknnya via online. Barulah saat ada pemesanan, jasa JNE yang dipilih.

“Potensi pasar di Lampung masih besar. JNE mendorong pelaku UMKM memanfaatkan online dan kami siap mengirimkan saban hari. Sabtu dan Minggu kami masih bekerja. Kalau besok kiamat, kami pastikan pagi masih mengirim barang milik pelanggan,” ujar Fikri seraya berseloroh.

Tetamu manggut-manggut seraya menikmati minuman dan kudapan yang disediakan.

Di Lampung, kata Fikri, ada 219 titik layanan JNE dan itu tersebar di 70 kecamatan se-Lampung. Beuh, dahsyat.

Segendang sepenarian dengan Mayland, Fikri juga mendorong pelaku UMKM dan blogger, akrab dengan layanan MyJNE karena itu memudahkan sekali. Tinggal unduh, dan kita pun akan semakin mudah melakukan transaksi, mengecek kiriman, dan tahu posisi agen terdekat.

Simpulannya, industri macam JNE mesti didukung penuh. Soal ada keterlambatan dan hal-hal lain yang mungkin menjadi stigma, buat saya pribadi, itu tantangan yang mesti dan pasti bisa dicarikan jalan keluarnya. Sudah biasa, kalau perusahaan membesar, pasti banyak tantanganya. Justru di situlah seni bisnisnya.

Dan JNE sebagai amsal industri bisnis berskala besar dan milik orang Indonesia tulen, patut melakukan banyak inovasi agar selalu ada yang baru. Agar tidak terlena, agar tidak tergerus zaman. JNE buat saya, Indonesia banget. Dan aplikasi MyJNE itu ya….gue banget.

About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Ilustrasi Amien Rais pada buku saya Menulis dengan Telinga. Ilustrasi dibikin teman saya Tri Purnajaya. | Dok Pribadi

Lima Menit Menahan Panas Bodi Mobil Tumpangan Amien Rais

Nama Amien Rais dalam beberapa hari belakangan mengemuka. Dalam berita yang kita simak di media …

20 comments

  1. thanks for the greath info

  2. Selamat jadi pemenang MyJNE, jangan jangan bapaknya Joni nih, eh.

  3. Rejeki nggak kemana ya, bang. Sejam mepet detlen aja tulisannya renyah bin kece badai macam ini dan jawara wahiid. 😀 barokallah yaaa, abang. Next kopdar tapis blogger agaknya agenda syukuran nih. Hihi.

  4. Ternyata aku belum komen di sini Bang hahaha…selamat ya bang, sunggu luar biasa bangga deh.

  5. Bah,,,mantap kali abangku yang satu ini,,, juaraaaa,, selamat bang

  6. Penasaran pengen coba My COD biar aman bertransaksi. Kalau baca2 status teman2 yang punya OL shop, nggak sekali dua kali ada pembeli abal-abal yang coba menipu. Pura-pra sudah transfer padahal belum.

  7. Seeettt… mantap Bang. Aku harus bertapa dulu kali ya biar bisa nulis sebaik ini 😀

  8. Ha ha, persis Abi, hampir setiap pagi mampir ke JNE ngantar buku untuk dikirim. Baru ngeh, kemarin bilang jadi kurir!

  9. Kereen… tulisannya mengalir selaik air terjun…

    • makasih ya mbak Fi. terus kalau air terjun, Mbak fi mau mandi di bawah air terjun gitu. awas nanti selendangnya diambil orang gak bisa lagi ke Kayangan, wakakakaka

  10. Mantap, mantap… Btw gua yang bagian manggut2 itu enggak, Bang. Kalo yang bagian menikmati minuman dan kudapan, iya 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com