Kamis , November 23 2017
Home / Reportase / Jurnalisme Jamban dan Jihad Sanitasi

Jurnalisme Jamban dan Jihad Sanitasi

Juwendra Asdiansyah. | Adian Saputra
Juwendra Asdiansyah. | Adian Saputra

Pekerjaan atau profesi jurnalis itu melekat dalam kehidupan sehari-hari. Meski secara struktural menjadi editor, redaktur, redaktur pelaksana, atau bahkan pemimpin redaksi (pemred), sejatinya ia tetap petarung di lapangan. Setidaknya itulah yang mendasari saya tetap senang menulis berita, menulis artikel, dan turun langsung ke lapangan.

Apalagi di tempat kerja saya sekarang, jejamo.com, minim kru. Maka, ketika ada acara yang tidak memungkinkan mengirim orang, tak masalah seorang pemimpin redaksi turun tangan.

Lagipula buat saya, pemred itu hanya jabatan struktural yang tidak boleh membelenggu kebebasan untuk menulis atau mereportase. Seperti misalnya hari ini.

Seorang teman dosen di Itera, Rinda Gusvita, mengundang saya untuk hadir dalam workshop sanitasi yang diadakan SNV Lampung. Ini adalah lembaga swadaya masyarakat yang dibiayai donor lur negeri.

Pembicara workshop adalah Koordinator Sanitasi Totalitas Berbasis Masyarakat (STBM) Bambang Pujiatmoko dan Pemimpin Redaksi Duajurai.co Juwendra Asdiansyah. Nama kedua ini istimewa buat saya karena Bang Juwe, demikian saya biasa menyapanya, adalah guru jurnalisme saya.

Pernah 10 bulan bersama Bang Juwe membesarkan duajurai.com, kini duajurai.co, sebelum saya bergabung dan menjadi pemimpin redaksi Jejamo.com.

Workshop semacam ini buat saya penting sekali. Selain bisa menambah perspektif dalam isu sanitasi dan lingkungan, akses kepada pihak SNV juga bisa dibangun. Akses itu buat jurnalis penting banget.

Semakin banyak akses semakin bagus. Mungkin poin yang disampaikan pemateri, katakanlah dalam ruang lingkup jurnalisme, sudah saya ketahui beberapa hal. Namun, mendengarkan serta menyimaknya sekali lagi justru menjadikan kita mendapat sensasi yang baru. Ilmu itu tak pernah usang meski sudah kita ketahui sebelumnya.

Saya datang ke lokasi training di Hotel Inna Eight ini sekitar pas jam sembilan pagi. Begitu motor parkirkan, Saktiaji, wartawan saibumi.com, datang.

Saibumi.com ini terbilang portal berita profesional pertama di Lampung. Dan pendirinya adalah orang yang tadi namanya sudah saya tulis di bagian atas: Juwendra Asdiansyah.

Kami kemudian masuk dan menuju lantai II ruang Laksamana. Peserta baru sedikit yang hadir. Usai bersalaman dengan beberapa peserta, antara lain Mawan dari Tapis Blogger dan Aji Aditya dari Antara, saya mengambil secangkir kopi dan kudapan.

Tak lama Bang Juwe muncul. Kami bercakap sebentar melepas kangen.

Usai petatah petitih pembukaan, materi pertama disampaikan Bambang Triatmojo. Paparan Bambang jelas dan cermat. Slide yang ditampilkan pria berambut gondrong ini enak disimak. Poin pentingnya adalah ia risau kenapa isu sanitasi tak begitu ada tempat di media massa.

Sebuah ungkapan yang nyaris sama ketika ada pembicara dengan nukleus pembicaraan seputar lingkungan.

Bambang ingin, beberapa hal penting dalam isu sanitasi mendapat porsi yang lumayan dalam pemberitaan. Ia kemudian memaparkan betapa masih ada 1,6 juta warga Lampung yang buang hajat sembarangan.

Artinya perilaku mereka masih jauh dari kata sehat secara sanitasi. Perilaku yang abai terhadap kakus atau jamban.

Bambang Pujiatmoko. | Adian Saputra
Bambang Pujiatmoko. | Adian Saputra

Bambang juga memaparkan bahwa sanitasi yang jorok, perilaku buang air sembarang adalah kezaliman buat orang lain. Bahkan, ada banyak penyakit yang timbul dari perilaku tak sehat itu. Diare, disentri, demam thypoid, gangguan kulit adalah sebagian kasus yang muncul imbas sanitasi tak sehat.

Bambang tak lupa memaparkan betapa Kecamatan Pagelaran di Kabupaten Pringsewu adalah profil daerah yang bebas dari perilaku BAB sembarangan. Pagelaran adalah lingkungan di mana Bambang dan wadyabalanya dari STBM dan SNV Lampung melakukan apa yang disebut intervensi lingkungan.

Ini adalah frasa untuk menunjukkan langkah terprogram SNV Lampung dalam mengedukasi warga tentang pentingnya sanitasi. Maka, perubahan itu menjadi keniscayaan. Dari dahulu yang banyak warga buang hajat sembarang menjadi daerah yang beradab. Dari jamban dan kakus yang minim sampai sarana MCK yang kini nyaman digunakan.

Ini sebuah good news yang mestinya dilempar kepada jurnalis lalu mengolahnya menjadi karya jurnalistik yang enak dibaca, foto yang enak dipandang, dan liputan televisi yang punya mutu gambar prima.

Oh iya, ada yang terlupa. Sebelum Bambang memaparkan ide dan gagasannya, panitia, setahu saya diwakili perempuan cantik bernama Dias, memutar sebuah rekaman ceramah Bahrudin, tokoh Nahdlatul Ulama di Pagelaran. Bahrudin saban pekan mengisi cermah agama bertajuk jihad sanitasi.

Inti ceramah Bahrudin mudah dipahami. Bahwa mengedukasi warga agar mau mengubah perilakunya dalam hal sanitasi adalah jihad. Ia bahkan, dalam film itu, meneriakkan takbir mirip seperti yang diteriakkan aktivis muslim tatkala berdemo di lapangan.

Bahrudin juga dekat dengan sosok Bupati Pringsewu Sujadi Saddat. Sujadi ini satu-satunya kepala daerah di Lampung yang kiai haji.

Ceramah Bahrudin enak didengar. Pesannya jelas. Bahwa sebagai muslim yang baik kita mesti punya sistem sanitasi yang bagus. Buang air besar bermodal plastik kresek lalu melempar tinja ke sembarang tempat adalah sebongkah kezaliman. Dan itu tak bisa dibiarkan.

Usai Bambang memberikan materi, Bang Juwe ambil pelantang. Sudah lama saya tak mendengar beliau memberikan materi. Ini tetap menarik buat saya.

Kata Juwe, isu sanitasi ini memang agak jarang muncul karena beberapa sebab. Dari sisi wartawan, kebijakan redaksi tidak menganggap isu itu penting untuk dijadikan bahan reportase. Kemudian, si wartawannya tidak memiliki pengetahuan yang memadai soal isu sanitasi.

Hal ini bisa diantisipasi dengan membangun relasi antara LSM lingkungan dengan media massa. Jurnalis juga diminta banyak membaca perihal isu-isu ini sehingga perspektifnya luas. Para jurnalis juga sedapat mungkin menggali isu perihal sanitasi dan lingkungan.

Workshop kali ini buat saya menyenangkan sekali. Bisa bertemu dengan beberapa teman dan bloger. Wabilkhusus bisa ketemu dengan senior dan guru jurnalisme: Juwendra Asdiansyah.(*)

About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Ilustrasi Amien Rais pada buku saya Menulis dengan Telinga. Ilustrasi dibikin teman saya Tri Purnajaya. | Dok Pribadi

Lima Menit Menahan Panas Bodi Mobil Tumpangan Amien Rais

Nama Amien Rais dalam beberapa hari belakangan mengemuka. Dalam berita yang kita simak di media …

2 comments

  1. Thanks atas supportnya utk kegiatan semacam ini , Bang. Semoga banyak isu2 lain yg bisa dipandang seksi oleh media selain kriminalitas dan perselingkuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com