Jumat , September 22 2017
Home / Opini / Jurnalisme Lapis Legit

Jurnalisme Lapis Legit

Ilustrasi. | cantikinfo.net
Ilustrasi. | cantikinfo.net

“Kak, dua korban meninggal yang diberitakan jejamo.com itu bukan siswa SMK Al Huda. Mereka siswa SMK Nurul Islam. Tadi pihak sekolah sudah konfirmasi ke Nurul Islam.”

Itu bunyi pesan Viva Desi Handayani kepada saya beberapa waktu lalu. Viva adalah guru di SMK Al Huda. Kebetulan jejamo.com yang saya pimpin memberitakan kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan dua siswa meninggal duna.

Reporter Andi Apriyadi dari lapangan menulis, kedua siswi itu adalah murid SMK Al Huda, sekolah di mana Viva Desi Handayani mengajar. Saya mengenal Viva sejak ia masih studi di SMAN 5 Bandar Lampung. Kebetulan saya selama beberapa tahun diminta menjadi pembina jurnalistik di sana, Persisma namanya, dan Viva adalah salah seorang penggiatnya.

Usai Viva memberi kabar itu, saya kemudian mengirim pesan di Beri Hitam alias BlackBerry kepada Andi Apriyadi. Saya memintanya mengecek kembali, apakah benar kedua siswi yang wafat itu adalah siswi SMK Al Huda, bukan SMK Nurul Islam.

Andi yakin, kedua siswi itu murid SMK Al Huda. Tapi saya menegaskan, guru SMK Al Huda sudah memeriksa, tak ada nama kedua siswi itu dalam data sekolah. Yang meninggal diyakini siswi SMK Nurul Islam.

Usut punya usut, reporter di lapangan ternyata mendapat data yang salah. Kerabat dan tetangga korban yang ditanyai, mengatakan bahwa kedua korban adalah murid SMK Al Huda, bukan SMK Nurul Islam.

Saya kemudian meminta maaf kepada Viva dan berjanji menurunkan perihal itu sebagai reportase berikutnya. Di tulisan terbaru soal kasus itu, nama sekolah sudah kami perbaiki.

Data yang diterima reporter memang salah. Namun, apakah kekeliruan semacam itu di lapangan juga merupakan kesalahan fatal? Jawabannya, belum tentu.

Mari kita sigi kasus yang saya terangkan dalam contoh di atas.

Dalam konteks media massa berupa portal berita, seorang reporter memang dituntut mengetik dengan cepat dan akurat serta mengirimnya selekas mungkin. Apalagi perihal yang ditulis adalah peristiwa, semacam kecelakaan lalu lintas dan sejenisnya. Maka, saat di lapangan, seorang reporter berpacu dengan waktu.

David Protest memang sudah memberikan panduan berupa teori lingkaran konsentris untuk membantu jurnalis menemukan narasumber paling kompeten dalam mengisahkan sebuah peristiwa. Narasumber yang berada paling dekat dengan nukleus dalam teori itu adalah person mahapenting untuk ditanyai.

Masalahnya adalah jika dalam konteks peristiwa yang masuk dalam kategori tragedi, agak sulit mewawancarai narasumber yang paling dekat dengan peristiwa itu. Ambil contoh di atas. Andi Apriyadi, reporter jejamo.com itu, sudah berada di rumah duka. Namun, untuk mewawancarai orangtua korban dalam masa itu jelas bukan pilihan yang baik.

Mengapa demikian? Terang saja, si empunya rumah sedang dukacita yang mendalam. Alih-alih mau mendapat berita, bisa jadi si jurnalis malah diusir lantaran dinilai tak punya nurani dalam melakukan reportase. Alhasil, soal identitas korban, termasuk nama sekolahnya, ditanyakan kepada kerabat, tetangga, dan orang sekitar.

Celakanya, data yang mereka sampaikan malah salah. Itulah yang terjadi dalam contoh berita di atas. Siswi yang mestinya murid SMK Nurul Islam, malah tertulis SMK Al Huda, lantaran para tetangga dan kerabat menganggap korban sekolah di sana. Prosedur jurnalistik sudah dijalani dengan baik oleh jurnalis di lapangan.

Ketika berita naik siar, itulah kebenaran. Itulah fakta yang tersaji meski secara konten salah. Memang benar, berita di media online, bisa diedit. Tapi, untuk judul, agak repot menggantinya. Bukannya tidak bisa, melainkan ini akan “mengganggu” indeks yang dilakukan Google. Perubahan pada judul berbanding lurus dengan perubahan pada permalink.

Sebagai sebuah produk jurnalistik, meski datanya keliru, ya itulah kebenaran saat itu. Itulah kebenaran faktual–meminjam Bill Kovach dan Tom Rosenstiel–yang tersaji.

Tapi, dalam jurnalisme itu, kebenaran dibangun selapis dengan selapis. Mirip kue lapis, wabilkhusus lapis legit, kue basah berasa manis lagi nikmat dikunyah-kunyah.

Lapisan kebenaran faktual yang satu dilapis dengan kebenaran faktual pada lapis lainnya. Satu fakta yang diketengahkan, dilapis dengan fakta-fakta lain yang dirajut dalam senarai karya jurnalistik yang memikat.

Dalam tatanan yang praktis atau dalam contoh berita, kejadian ditangkapnya seorang pejabat negara oleh KPK menjadi kebenaran faktual yang riil terjadi. Angle jurnalis baru sebatas peristiwa penangkapan, adanya barang bukti yang disita, dan dibawa ke mana pejabat negara itu. Pihak KPK belum bisa dimintai komentar.

Dalam berita online, penangkapan itu cukup pantas diturunkan menjadi sebuah berita. Itulah kebenaran faktual lapisan pertama yang dibentuk dari peristiwa tersebut. Dan pembaca pun mendapat informasi awal yang memadai. Media massa lazim menulis “breaking news” untuk berita-berita semacam itu. Kalangan penggiat bahasa Indonesia, memadankannya dengan frasa warta semerta yang kira-kira artinya kabar yang lekas diinformasikan.

Reporter yang meliput peristiwa itu kemudian menggali lagi di balik penangkapan. Misalnya, apa yang dikerjakan pejabat yang ditangkap itu sebelum didatangi KPK, isi SMS atau panggilan telepon terakhir sebelum dibekuk, dan sebagainya.

Angle-angle itu kemudian dituliskan lagi lalu dikaitkan dengan konteks berita di awal. Pembaca akan menikmati lagi berita lanjutan dengan angle yang berbeda. Itu juga menjadi kebenaran faktual yang memang terjadi saat itu. Kebenaran pun dibentuk satu lapis lagi. Demikian seterusnya hingga mungkin media massa menghentikan sama sekali lanjutan berita itu.

Mungkin ada puluhan kebenaran faktual yang didedahkan jurnalis di media massanya. Artinya pula, puluhan lapis itu juga yang membentuk berita yang disajikan. Pendeknya, inilah ringkasan mengapa kebenaran dalam jurnalisme itu dibentuk selapis demi selapis, sesuai dengan verifikasi yang dikerjakan sang jurnalis dari medan liputan.

Ya mirip kue lapis legit. Kalau hanya selapis, tentu sangat tipis dan tak enak dinikmati dengan manis. Ia mesti dibentuk selapis demi selapis sehingga mempertebal ukuran kue dan memuaskan bagi mereka yang menyukainya. Wallahualam bissawab.

About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Ilustrasi Amien Rais pada buku saya Menulis dengan Telinga. Ilustrasi dibikin teman saya Tri Purnajaya. | Dok Pribadi

Lima Menit Menahan Panas Bodi Mobil Tumpangan Amien Rais

Nama Amien Rais dalam beberapa hari belakangan mengemuka. Dalam berita yang kita simak di media …

32 comments

  1. nyimak

  2. Dita Ayu Sarasssita

    mantul (mantab betul)

  3. Nengahdwi KPI E semester 3,nyimak bang

  4. Nyimak

  5. Wih sama2 pecinta liverpool ternyata

  6. Esti KPI e
    Nyimak bang

  7. zenia KPI E, nyimak

  8. Baguusss pak.. Ternyata dibalik karya yg indah sllu saja dngn lapisan2 kebenaran mirip sprti kue lapis legit. ^^ jazakumullah khoir. sangat bermanfaat

  9. Lutpiah KPI A udah baca bang

  10. Artikel ini jadi menjelaskan proses terbitnya sebuah berita, terkadang kesalahan data memang sangat memungkinkan seperti hal yang diungkapkan di artikel ini. Cuma ada juga sih ketika yang diberikan narasumber apa, yang dikutip oleh wartawannya apa, mungkin karena kalimat yang kurang “menjual” kali ya? atau karena bikin artikel yang dikejar dateline hahaha… soalnya sudah 2 kali jadi korban salah kutip sama media sebelah, hihihi… Kalo aku sih yakin sama jejamo.com tau banget sifat pemimpinnya soalnya hahaha….
    Sukses ya kak

  11. Tulisan lumayan panjang tapi enak ngunyahnya. Bener-bener mirip lapis legit. Digigit dikit-dikit, lama-lama abis juga. Hehe. Sukses selalu kak Adian!

  12. Tulisan yang mencerahkan bang.
    Sayang belum sempat kumpul bareng sambil ngobrol santai lagi bareng bang Adian :(

  13. Saya termasuk orang yang kurang suka membaca,tapi bila tulisan dan ceritanya menarik seperti halnya kue lapis legit..bikin lidah serasa mengecap mangga manalagi..

  14. Hhmmm ini idenya kue lapis yg sy bicarakan di griya ubi sepertinya. Semangat bang

  15. Bener banget. Segala sesuatu itu memang sebaiknya berlapis. Selain akan mempermanis tampilan atau rasa, melapis akan mengajarkan kita supaya bersabar, lebih cermat dan teliti. Keren tulisannya, Bang Adian… sangat inspiratif

  16. Hmmm, tulisan sangat berkelas, musti banyak belajar jurnalisme dari Abang.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com