Jumat , September 22 2017
Home / Reportase / Lima Menit Menahan Panas Bodi Mobil Tumpangan Amien Rais

Lima Menit Menahan Panas Bodi Mobil Tumpangan Amien Rais

Ilustrasi Amien Rais pada buku saya Menulis dengan Telinga. Ilustrasi dibikin teman saya Tri Purnajaya. | Dok Pribadi
Ilustrasi Amien Rais pada buku saya Menulis dengan Telinga. Ilustrasi dibikin teman saya Tri Purnajaya. | Dok Pribadi

Nama Amien Rais dalam beberapa hari belakangan mengemuka. Dalam berita yang kita simak di media massa, nama pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) itu disebut-sebut menerima aliran dana korupsi alat kesehatan (alkes) semasa Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Saya tak hendak mendedahkan hal itu. Soalnya, saya tak punya pengetahuan memadai mengenai hal itu. Saya hanya ingin bernostalgia pernah mewawancarai Amien Rais pada kampanye Pemilu 2009 silam di lapangan PKOR Way Halim di Bandar Lampung.

Nama Amien Rais juga saya jadikan satu judul khusus dalam buku saya berjudul Menulis dengan Telinga. Artikel itu berjudul “Gara-Gara Amien Rais Tulisan Saya Tidak Dimuat”.

Begini ceritanya. Waktu itu saya bekerja sebagai reporter untuk Kantor Berita Radio 68 H (KBR68H)yang berkantor di kawasan Utan Kayu. Tapi saya tidak di sana bekerjanya. Saya tetap di Lampung. Tugas saya menulis berita perihal Lampung yang punya isu bagus untuk naik siar di KBR68H. Honornya lumayan, Rp60 ribu untuk satu berita yang naik siar.

Senjata saya adalah sebuah tape recorder dan notes. Cara mengirimnya, usai menulis di notes, saya mengirim SMS kepada koordinator reporter tentang angle atau topik berita. Jika dinilai layak, mereka nanti akan menelepon dan merekam saya membacakan naskah berita. Jadi kangen laporan ke KBR68H.

Beberapa wartawan sudah menunggu Amien Rais usai memberikan orasinya. Kami menunggu di bawah. Saya ingat ada beberapa wartawan senior yang menunggu. Rerata bekerja di desk politik. Ada Mas Kristianto dari Lampost, ada juga Helena Nababan dari Kompas.

Mas Kris dan saya satu kantor dengan saya di Lampost. Namun, di Lampost, posisi saya masih korektor bahasa dan enggak ada kaitannya sama liputan. Berhubung saya “nakal” dan pengen ada tantangan baru, saya nyambi di KBR68H. Ya supaya ada pengalaman lapangan yang lumayanlah. Masak Pemred jejamo.com enggak ada pengalaman tempur di lapangan, hehehe.

Seingat saya, waktu ada sedang hangat dugaan korupsi salah seorang anggota DPR asal PAN. Namanya kalau tak salah Abdul Hadi Djamal. Kalau reporter media nasional pasti pengen nanya soal itu, enggak ada kaitan sama sekali dengan isu kampanye PAN di Lampung.

Amien Rais masih menjadi Ketua Majelis Pertimbangan PAN. Ketua DPW PAN masih dijabat Irfan Nuranda Djafar.

Usai berorasi, kami mengejar Bapak Reformasi itu. Amien dikawal beberapa petugas. Ia kemudian masuk ke mobil tumpangan milik Irfan Nuranda Djafar. Kaca mobil ditutup rapat. Itu mobil ada di bawah terik matahari siang bolong. Kami merangsek maju. Muka saya persis di depan kaca mobil. Satu dua menit Pak Amien tak mau membukakan kaca.

“Adian, ketok kacanya, Yan,” kata Mas Kris.

Waduh, posisi sulit ini. Saya kemudian mengetuk pelan dan sambil omong agak keras.

“Pak Amien, buka kacanya, Pak. Mau wawancara, Pak.”

Pak Amien belum membukakan pintu. Saya baru sadar, punggung tangan kanan menempel pada bodi mobil yang alhamdulillah panas banget. Mau mundur enggak bisa. Di belakang, ada beberapa wartawan ikutan merangsek dan siap dengan kamera dan tape recorder. BlackBerry kayaknya waktu itu belum marak. Rata-rata masih pegang notes.

Saya cepat mikir, gimana caranya ini kaca terbuka dan Pak Amien mau ngomong. Sambil agak susah, saya kemudian menangkupkan tangan seperti memohon belas kasih. Saya juga melebarkan jari saya membentuk angka lima. Maksud saya, “Minta waktu sih Pak meski 5 menit.”

Saya memelas-melaskan wajah. Kadang bibir saya berucap “Pliissss.”

Alhamdulillah, tak lama wajah saya memelas, Pak Amien membuka kaca. Wartawan di belakang makin merangsek. Irfan Nuranda Djafar persis duduk di sebelah Pak Amien Rais.

Karena yang belakang mendorong, tubuh saya makin menempel dengan bodi mobil. Uh panasnya Tuhan.

Bertubi-tubi kami bertanya. Dari sikap partai soal dugaan korupsi Abdul Hadi Djamal, peluang PAN pada kampanye kali ini, sampai dengan target PAN untuk suara di Lampung. Saya ikutan bertanya kalau tak salah meski posisi wajah agak tenggelam lantaran tertutup tangan-tangan jurnalis lain.

Ada sekitar lima menit Pak Amien Rais memberikan komentar. Intinya, tetap pada komitmen PAN sebagai lokomotif reformasi dan menyatakan komitmen antikorupsi. Ketua Umum PAN waktu itu Sutrisno Bachir yang sudah pulang duluan usai berorasi sebelum Amien Rais.

Sesi pertanyaan pun selesai. Pak Amien menutup kaca mobil dan berlalu. Saya lega. Napas bisa lancar. Begitu melepaskan punggung lengan dari bodi mobil, baru kelihatan merah mendekati gosong. Ya Allah, gini amat cari rezeki, hehehe.

Pas mau menulis di notes, beberapa wartawan mendekati.

“Denger ramean ya, Adian,” kata Mas Kris.

Oh rupanya rekaman pada tape recorder yang mau didengar. Saya putar mundur kemudian klik tombol play.

Kami menyimak dengan khidmat. Masing-masing mencatat di notes. Usai beres, kami pun bubar. Saya menyelesaikan beberapa alinea berita soal tadi dan menyiapkan sisipan ujaran Amien Rais yang akan saya udarakan melalui KBR68H.

Yang saya ingat sih bagian akhir saja kalau laporan ke kantor berita radio ini:

Dari Bandar Lampung, Adian Saputra, KBR68H…..(*)

About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Saya dan Hengky Kurniawan. | Sigit Pamungkas

Bikin Banana Foster Lampung, Apa yang Kau Cari Hengky Kurniawan?

Judul sengaja dibuat agak menghentak, hehehe. Biar ada yang baca. Dalam dunia online, judul itu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com