Senin , Desember 10 2018
Home / Opini / Media Online dan Kesejahteraan Jurnalis

Media Online dan Kesejahteraan Jurnalis

Sewaktu uji kompetensi jurnalis.
Sewaktu uji kompetensi jurnalis.

Di Lampung kini banyak tumbuh media online atau media daring. Waktu mendekati Pilgub Lampung saja, beberapa media online yang baru bermunculan. Kini di hampir banyak kantor pemerintahan dan dewan, Wartawan media online bertebaran.

Di satu sisi, hal semacam ini menggembirakan. Pasalnya, dengan semakin banyak media massa, harapan publik terhadap informasi yang bermutu juga semakin besar. Dengan begitu, publik bisa mendapatkan informasi yang terpercaya.

Jika dahulu pada masa Orde Baru kita sulit mendapatkan informasi yang bervariasi, kini saatnya mendapatkan itu. Sebab, setiap media akan bersaing untuk mendapatkan informasi yang penting dan menarik.

Mengapa penulis mengetengahkan tema soal media online? Sebab, ini adalah masa di mana dunia online mendominasi dan mendapat tempat di hati pembaca. Dan momentum seperti ini mesti dimanfaatkan oleh pengelola media massa. Sebab, generasi milenial akrab dengan gawai dan mendapat informasi dari situ.

Mereka tak lagi mendasarkan pilihan informasi pada media yang selama ini ada, seperti koran, majalah, tabloid dan media tercetak lainnya.

Tumbuhnya media online sudah tentu membutuhkan banyak jurnalis untuk memasok artikel beritanya. Semakin banyak media, tentu semakin banyak jurnalis yang dibutuhkan. Dan itu adalah sebuah kesempatan dalam berkarier dalam dunia kewartaan.

Persoalannya adalah bagaimana dengan tingkat kesejahteraan jurnalis media online? Apakah menjamurnya media online ini berbanding lurus dengan kesejahteraan yang dalam hal ini diwakili oleh komponen pokok pada gaji.

Pengalaman sejak akhir 2014 mengelola media online sampai dengan sekarang membawa sebuah fakta sahih bahwa soal kesejahteraan ini relatif belum terealisasi.

Kebanyakan media online semacam portal berita yang tumbuh ini didirikan dengan modal yang ngepas. Masih syukur jika pemilik utama masih mau menalangi semua pengeluaran sampai dengan satu tahun. Setelah itu, manajemen silakan mengelola sendiri pemasukan dan pengeluaran.

Pada noktah inilah media massa online tampak gagap dalam menghadapi persaingan, terutama dalam kue pendapatan iklan dari pemerintah daerah dan swasta. Setidaknya itu dalam kasus di Bandar Lampung.

Sebagian besar sumber pemasukan utama iklan media online masih dari kerja sama atau kontrak dengan pemerintah daerah. Ini sama dan sebangun dengan media cetak. Namun, di Bandar Lampung, cara pandang orang dalam beriklan di media cetak itu lebih besar ketimbang media online.

Ambillah contoh, duit lima juta rupiah, jika dibelanjakan untuk koran, paling hanya sehari dalam kolom dan baris yang besar. Katakanlah bisa separuh halaman.

Uang sebesar itu, di media online, bisa untuk lima bulan memasang iklan 24 jam dan masih ditambah dengan artikel berita–yang di koran ini tidak bisa dilakukan.

Ekonomisnya beriklan di media online di satu sisi menjadi salah satu jualan. Namun, di sisi lain, ini lambat laun akan membunuh kredibilitas media online itu sendiri. Dikhawatirkan, persepsi masyarakat terhadap media online itu murahan.

Hal ini mau tak mau berimbas pada akumulasi pendapatan iklan dalam sebulan. Mengapa sebulan? Karena kebutuhan pengeluaran media juga dihitung dalam durasi yang sama.

Gaji mesti dibayar, sewa server mesti digunakan, langganan internet juga demikian. Belum lagi urusan kantor dan lainnya. Hitung punya hitung kok jadi besar juga.

Pada posisi itulah gaji jurnalis menjadi belum besar nan menyejahterakan. Bisa sebatas upah minimum kota ini saja sudah lumayan, plus THR. Belum bicara untuk BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

Meski demikian, ini mesti disikapi semua media online yang bertumbuh sehingga kualitas berita menjadi baik dan kesejahteraan lambat laun meningkat.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan efisiensi pada tenaga kerja di media online. Dari sisi jumlah, wadyabala media online bisa ditekan sehingga satu orang bisa mengerjakan beberapa hal.

Dari pengalaman selama ini, media online yang tumbuh dengan modal yang sedang mesti hemat tenaga kerja.

Seorang pemimpin redaksi, tak hanya menjadi pemimpin keseharian. Tugas-tugas penguatan angle, memimpin proyeksi, memberikan pembobotan, masih bisa ditambah dengan kerja menyunting.

Ini juga saya lakukan dalam dua tahun belakangan. Idealnya memang ada satu editor yang digaji khusus sehingga pembaruan berita bisa terjaga. Namun, ini melihat kondisi keuangan.

Untuk reporter juga demikian. Jika memfokuskan pada dalam kota, dua jurnalis sudah cukup. Mereka bekerja setiap hari dengan satu hari libur. Upayakan Sabtu dan Minggu ada yang bekerja. Liburnya bergantian.

Dengan dua jurnalis dan modal yang pas serta pemasukan yang belum bernilai tinggi, dari pengalaman ini memungkinkan. Menggaji dua reporter dengan upah minimum kota masih bisa dilakukan.

Satu tenaga marketing yang mengurus soal iklan juga sudah cukup. Tentu tugasnya bakalan bejibun jika ditambah dengan proses penawaran kerja sama dan pencairan dari kontrak kerja sama.

Dengan tim yang superminimalis ini, media online masih bisa bertahan. Tentu dengan sedikit demi sedikit melakukan efisiensi dan makin giat dalam pencarian iklan.

Dengan begitu, ada uang yang masih bisa ditabung untuk pengembangan situs di masa depan.

Untuk jurnalis secara spesifik, dengan kekuatan yang minimalis ini, redaksi menjadi ramping. Tidak mesti semua pos dijaga. Dan tak perlu ada istilah kebobolan.

Dari sisi jumlah saja misalnya, sebuah media online yang baru tumbuh memang bukan kompetitor yang sepadan dengan media cetak yang sudah lama berdiri dan punya divisi online sendiri. Tak bisa dihadap-hadapkan.

Tinggal bagaimana media massa online ini memberikan warna tersendiri. Sehingga, ada produk jurnalistik yang menarik yang menjadi keunggulan kompetitif. Ibarat sebuah medan peperangan, ini adalah regu tempur kecil. Ia mesti lincah bergerak.

Di mana musuh lengah, di situ dia masuk. Sembari terus mengasah naluri jurnalisme dan bisnis yang sehat. Selain itu, menambah jumlah personel agak makin berbobot. Tidak tambun, tapi berisi.(*)

About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Dokter Karina.

Stunting dan Sebatang Rokok

Kemarin ada dua kawan kami anggota AJI Bandar Lampung yang menikah. Yang pria bernama Rudiyansyah, …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com