Kamis , November 23 2017
Home / Diary / Melepas Kangen dengan Pak Misdi Hartono, Guru Legendaris SDN 2 Rawalaut (Teladan) Bandar Lampung

Melepas Kangen dengan Pak Misdi Hartono, Guru Legendaris SDN 2 Rawalaut (Teladan) Bandar Lampung

Searah jarum jam, Pak Misdi Hartono, Yeni Kesuma Dini, saya, Indah Martiani Sumaputri, Novi Indriani. | Foto by Dian Apriana Djayasinga
Searah jarum jam, Pak Misdi Hartono, Yeni Kesuma Dini, saya, Indah Martiani Sumaputri, Novi Indriani. | Foto by Dian Apriana Djayasinga

Sudah lama saya ingin sekali bertemu lagi dengan Bapak Misdi Hartono, wali kelas 6C SDN 2 Rawalaut, saat kami lulus tahun 1991 yang lampau. Di antara teman-teman satu angkatan, saya termasuk yang paling sering bertemu dengan dia.

Usai lulus SMA, saya sering bertemu beliau di rumahnya. Sebetulnya bukan hendak ketemu langsung beliau, tapi anak nomor duanya, Abdullah Al Mutaqin atau yang biasa disapa Kikin. Kikin ini pernah menjadi ketua umum Rohani Islam (Rohis) SMAN 2 Bandar Lampung, almamater saya. Usai lulus SMA dan kuliah di Universitas Lampung, saya memang beberapa kali masih ke sekolah, berkenaan dengan organisasi ini dan OSIS.

Karena banyak berteman dengan adik-adik kelas, saya tahu banyak rumah-rumah mereka. Salah satunya Kikin ini, anak kedua Bapak Misdi Hartono. Pertemuan dengan Pak Misdi memang menyenangkan. Orangnya ramah, hangat, dan humoris.

Kadang kalau saya ke rumahnya, Pak Misdi bersiap mau pergi.

“Ke mana, Pak?”

“Ke Koperasi Pegawai Negeri lho Adian. Bapak ini kan pengurus, katanya lho, katanya,” ujarnya seraya merapikan rambut ikalnya dengan jari-jari usai disisir. Pak Misdi memang lucu.

Bapak Misdi Hartono. | Adian Saputra
Bapak Misdi Hartono. | Adian Saputra

Kami ingat saat diajar dia dahulu, saban pagi selalu tanya jawab soal pengetahuan umum dan alam. Selama 10 menit awal, pasti kami sudah siap dengan tradisi yang baik ini di kelas.

“Apa nama lapisan pelindung gigi?”

“Email,” jawab Achmad Nurhadi, ketua kelas yang juga siswa paling pandai di kelas.

Nurhadi memperoleh nilai sempurna untuk mata pelajaran Matematika dalam Ebtanas, sekarang dikenal dengan ujian nasional atau UN.

“Lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB?”

“Amerika Serikat, Uni Soviet (Rusia), Inggris, Prancis, dan China,” teriak Nurian.

“Pulau paling ujung barat Indonesia?”

“Pulau Weh,” seru Dedek Astrilia Gunawan.

Itulah suasana pagi di kelas 6C saat kami masih bersama Pak Misdi. Tak heran, pengetahuan umum kami lumayan baik. Yang enggak kebagian jawab pun, ya ikut nyimak saja. Soalnya kalau sudah adu cepat menjawab seperti itu, kadang kelewat semangat, hahaha.

Setiap hari kami juga pasti ulangan matematika. Ada matematika soal, ada matematika angka. Belum lagi pelajaran mencongak dan mengimla. Wah, kalau sudah demikian, suasana belajar itu berasa asyik. Memang kadang jenuh juga, suntuk dan sebagainya.

Untungnya waktu itu belum ada gadget. Jadi, pas jam istirahat, kami masih bisa main gobak sodor, petak umpet, atau kejar-kejaran enggak jelas. Pokoknya lari-larian aja.

Ingatan seperti itu rupanya menjadi ingatan kolektif kami anak-anak Pak Misdi. Maka, kerinduan untuk bertemu dengan dia, menjadi satu angan yang entah kapan bisa diwujudkan.

Saat Facebook mula-mula datang, kami pun sudah saling mencari kawan-kawan yang dulu sempat enam tahun sekelas, dari kelas IC sampai 6C. Alhamdulillah satu per satu ketemu dan ngobrol bersama.

Apalagi waktu saya masih bekerja di Lampung Post, sempat menulis beberapa cerita anak dengan setting kelas 6C dan nama-nama tokoh sesuai nama asli kawan-kawan.

Ada cerita soal kawan baru kami dari Pekanbaru bernama Ashari Kurniawan. Saya menulis cerita anak dengan judul “Kawan Baru dari Pekanbaru”. Ada juga cerita saat kami bermain drama pengadilan. Ada juga cerita anak saya soal cerdas cermat, pemukul kasti kelas 6C dan masih banyak lagi. Sayang, ide untuk kumpul atau bereuni belum terealisasi.

Barulah saat saya menemukan foto keluarga besar Pak Misdi di akun Kikin, anaknya, saya tag ke beberapa kawan. Saya sodorkan pula ide untuk reuni dan kunjungan ke rumah Pak Misdi. Alhamdulillah respons kawan-kawan sangat bagus. Singkat cerita, Jumat siang, 12 Agustus 2016, kami pun bertemu. Ada 12 orang yang berkumpul: Adian Saputra, Amir Hasan, Bambang Risdianto, Irsan Darmawan, Rizky Abdullah, Martziandi Ibraza, Dian Apriana, Novi Indriani, Indah Martiani Sumaputri, Ona Wiana, Ratna Yunita, dan Yeni Kesuma Dini.

Di antara kami itu, ada yang sudah 25 tahun sama sekali tidak bertemu. Tapi ada juga yang masih ketemu di SMP dan SMA. Tapi, ada juga yang enggak ngeh kalau selama SMP itu sama. Seperti saya dan Dini. Saya malah baru tahu, Dini juga di SMPN 2 Bandar Lampung, almamater saya.

Keceriaan kami terbangun di situ. Cerita masa lalu terbongkar semua. Lucu-lucu semua. Tiga jam diisi ketawa melulu. Masing-masing juga membawa kudapan dan minuman dari rumah. Indah, sang tuan rumah, menjamu tamunya dengan sangat baik.

Baca: Tak Bertemu 25 Tahun, Alumni 6C SDN 2 Rawalaut Reuni di Warung Nongkrong Bandar Lampung.

Dari pertemuan itulah, ide untuk bersilaturahmi dengan Pak Misdi mengemuka. Dan responsnya pun bagus. Sampai pada kesimpulan kami hendak memberikan apa kepada beliau sekadar cenderamata atau oleh-oleh.

Ringkasnya, semua sepakat urunan untuk beli oleh-oleh buat Pak Misdi. Oh iya, rumah beliau kini sudah tidak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kotabaru, Bandar Lampung, lagi. Ia dan istri sudah pindah ke Jalan Nusa Indah, Ganjaragung, Kota Metro. Lokasi masuk jalan ke rumah Pak Misdi belok kiri sebelum gapura selamat datang Kota Metro.

Kami sepakat hari Sabtu, tanggal 17 September 2016, kami bersilaturahmi ke rumah beliau. Di grup WhatsApp juga sudah diinformasikan soal itu, termasuk mengingatkan semua teman-teman yang mau urunan atau sum-suman.

Searah jarum jam, Dian Apriana, Indah Martiani Sumaputri, Novi Indriani, Bapak Misdi Hartono. Yeni Kesuma Dini. | Adian Saputra
Searah jarum jam, Dian Apriana, Indah Martiani Sumaputri, Novi Indriani, Bapak Misdi Hartono. Yeni Kesuma Dini. | Adian Saputra

Jumat, 16 September 2016, saya, Dian, Dini, dan Novi janjian ketemu di Chandra Tanjungkarang untuk beli oleh-oleh. Kami sepakat membeli baju koko dan sarung. Sisa lebih uang hasil urunan kawan-kawan kami sepakat memberikannya untuk Pak Misdi. Ya sekadar wujud ingat kami dengan guru terkasih.

Yang lucu, sebelum membeli itu, saya menelepon istrinya Pak Misdi. Ia kaget saya menelepon karena memang sudah lama tak berkorespondensi.

“Bu, Bapak kalau pakai baju koko sukanya lengan panjang apa pendek?”

“Lengan panjang biasanya, Mas. Tapi kalau lengan pendek juga enggak apa.”

“Bu, warna baju yang disukai Bapak apa ya?”

“Warna kalem aja, kalaupun cerah juga enggak apa-apa asal enggak norak.”

“Ukuran baju Bapak M atau L ya, Bu?”

“Ukuran L aja, Mas Adian.”

Demikianlah, habis seru-seruan berburu koko, kami memilih sarung yang pas.

Saya, Dian, Dini, dan Novi sepakat memilih warna baju koko dan sarung yang senada. Kami sudah bayangkan kalau Pak Misdi memakainya, ah Bapak bikin kangen.

Malamnya di grup WA saya menginformasikan lagi siapa saja yang hendak ikut. Beberapa teman yang tak ber-WA, saya telepon dan kirimi SMS. Akhirnya, utusan alumni kelas 6C yang akan bersilaturahmi ke Pak Misdi ada lima orang: saya, Dian, Dini, Indah, dan Novi.

Novi yang menjadi sopir, soalnya mobilnya Sirion punya doi. Sabtu, 17 September 2016, kami melaju ke Metro. Sirion putih membelah jalan kota Bandar Lampung. Wuzzz.

Sepanjang perjalanan, Dian yang paling mendominasi cerita. Harap maklum saja, ini memang kebiasaan doi sejak SD yang enggak bisa hilang sampai dengan sekarang. Kami pun sungguh tak mau Dian kehilangan ciri khasnya itu. Biarlah ia bercerita dan kami yang tertawa terpingkal-pingkal. Novi kadang senyum-senyum saja, maklum, driver, mesti awas dan selalu waspada.

Begitu mendekati Kota Metro, Novi melaju pelan.

“Masuk mana ini, woi!”

Kalau Novi ngomong memang demikian. Sulit dibedakan apakah ia sedang bertanya atau sedang menghardik, hahaha. Kenceng soalnya suara doi. Saya meminta Novi terus melaju melewati gerbang selamat datang Kota Metro. Namun, sampai satu kilometer belum ketemu Jalan Nusa Indah.

Saya kemudian menelepon istrinya Pak Misdi.

“Kami di Ganjarasri, Bu.”

“Kejauhan, Mas Adian. Deket kok dari gapura itu. Belok kiri.”

Mobil kemudian balik arah. Indah kemudian membuka iPad-nya. Ia membuka Google Maps.

“Ikuti ini aja,” kata Indah. Mobil melaju berdasar petunjuk peta Google. Dan…sampai.

Rumah Pak Misdi di Ganjaragung ini asri banget. Luas sekali. Halaman depannya kira-kira 10 kali 5 meter. Garasinya cukup kalau  untuk dua mobil. Bagian dalam rumahnya juga lapang sekali. Begitu masuk ketemu ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dan dapur. Di belakang masih ada tanah dengan sebuah kandang ayam.

Dari belakang rumah Pak Misdi, sejauh mata memandang, sawah terhampar. Menghirup udara segar.

Kami bersalaman dengan Pak Misdi. Saya memeluknya dengan hangat. Dian, Dini, Indah, dan Novi mencium tangan Pak Misdi dengan takzim.

“Ibunya enggak bilang kalau yang datang Mas Adian dan kawan-kawannya. Ibu saya tanya, rahasia katanya. Sampai segitunya Ibu enggak mau kasih tahu.”

Kami tertawa usai Pak Misdi berkata demikian. Pas kemarinnya saya telepon, saya memang bilang sama ibu, jangan bilang-bilang ke Bapak ya Bu. Maksudnya sih kejutan.

Kami pun berbincang hangat dengan Pak Misdi. Guru tercinta kami itu mencoba mengingat-ingat lagi satu demi satu.

“Kalau kamu kayaknya Bapak ingat kok,” kata Pak Misdi ke Dian.

“Ya pasti dong, Pak. Saya kan dulu siswa paling pinter di kelas. Dedek aja lewat Pak,” Dian mulai nyerocos.

Cerita pun belok ke soal Dedek Astrilia Gunawan, kawan kami yang jago matematika dan sempat juara lima nasional Olimpiade Matematika.

“Waktu dulu Dedek berangkat, ayahnya temui saya. Pak Misdi, si Dedek maunya sama Pak Misdi lomba ke Jakarta. Pak Misdi ikut Dedek saja naik pesawat, kami lewat jalan darat saja,” cerita Pak Misdi.

Yang saya ingat, waktu pengumuman pas upacara hari Senin, saya bilang sama Nurhadi. Saya bilang sama Nurhadi, Dedek itu juara lima nasional. Saya nebak-nebak saja waktu itu. Dan saat diumumkan, benar, Dedek juara lima nasional Olimpiade Matematika.

Obrolan berlanjut. Pak Misdi terlihat “berpikir keras” mengingat Dini, Indah, dan Novi.

“Saya Novi, Pak, anaknya Bu Kur,” Novi langsung pakai password. Hahahaha.

“Ya Allah, Bu, Bu, ini si Novi, anaknya Bu Kur. Ya Allah. Ibu sehat ya Novi?”

“Sehat, Pak, alhamdulillah. Kemarin aja baru jatuh, mesti operasi tulang, tapi alhamdulillah sudah baikan.”

Ibunya Novi, Ibu Kur, rupanya sohib Pak Misdi. Sama-sama guru di sekolah yang sama. Istri Pak Misdi juga kenal baik dengan ibunya Novi.

Indah dan Dini juga mencoba menjelaskan siapa diri mereka, hahaha. Udahlah Pak kalau enggak ingat enggak apa, wakakaka.

Obrolan berlanjut. Kita fokus ke Pak Misdi aja ya. Pak Misdi dan istrinya baru kisaran bulan tinggal di Metro. Rumah mereka di Jalan Perintis Kemerdekaan sudah dijual. Pak Misdi tak hanya mengabdikan diri di SDN 2 Rawalaut. Ia juga sempat diamanahkan menjadi kepala sekolah di SDN Campang Raya. Ia juga sempat mengajar di SDN Tanjungagung. Bisa dibilang, karier Pak Misdi dalam dunia pendidikan cukup mulus.

Ia kini menikmati masa tua dengan nyaman. Ia bercerita, kalau sudah tua begini, ikut kata anak saja. Rumahnya yang sekarang di Metro juga hasil rembukan anak-anak.

Anak pertama pak Misdi bekerja di Poltekkes Metro. Mbak Aan, demikian biasa saya menyebutnya, termasuk pegawai Kementerian Kesehatan karena ranah kerjanya di Poltekkes. Rumah Mbak Aan ini tak begitu jauh dengan kediaman Pak Misdi dan istri.

Mbak Aan ini memang lama bekerja sebagai bidan. Ia lulusan Sekolah Perawat Kesehatan. Mbak Aan sudah berkeluarga. Saya lupa jumlah anaknya sekarang berapa.

Anak kedua Pak Misdi, Kikin, adalah yang paling akrab dengan saya. Kikin sudah menikah dan punya dua anak serta menetap di Bekasi.

Anak ketiga Pak Misdi, Didi namanya. Masih jomblo. Ia juga alumnus SMAN 2 Bandar Lampung, almamater saya. Didik kini ikut pekerjaan proyek di beberapa daerah di Lampung.

Anak bungsu Pak Misdi, Nia namanya. Kini juga menetap di Kota Metro.

Kondisi kesehatan Pak Misdi dan istri secara umum sehat. Mungkin karena sudah tua, gangguan kesehatan juga ada. Pak Misdi beberapa tahun terakhir terkena diabetes. Saban akan makan, ia sering disuntik insulin untuk mengatur kadar gula darahnya.

“Bapak ini dari dulu hobi banget masakan Padang. Apalagi yang santan-santan. Hobi dia. Kayaknya hampir tiap malam beli makanan Padang. Ya mungkin sekarang ini penyakitnya dari situ penyebabnya,” ujar istri pak Misdi.

“Wah, Ibu, jadi cerita sama anak-anak. Jadi kebuka semua begini deh,” kata Misdi. Kami tertawa-tawa.

Oh iya, sebulan lalu, Pak Misdi juga sempat dibawa ke rumah sakit karena kadar gulanya. Kata istrinya, bapak sempat enggak sadarkan diri. Tapi alhamdulillah, usai dibawa ke rumah sakit, lambat laun membaik. Kini, istri Pak Misdi selalu mengontrol apa yang mau dimakan suaminya tersayang itu.

“Adian ini sih, bilang ke ibu, gak boleh bilang-bilang. Kalau bilang mau ke sini kan bapak bisa siap-siap,” kata Pak Misdi.

Kami kemudian disodorkan makanan dari singkong. Mirip getuk atau gatot begitu. Pakai kelapa yang diparut, enak sekali. Mantap. Khas desa.

Obrolan berlanjut. Masih dalam suasana reuni, gelak tawa. Bintangnya ya tetap Dian, hahaha.

Jam makan siang pun tiba. Pak Misdi dan istri mempersilakan kami makan. Menunya lumayan istimewa: bakso. Ada juga nasi disiapkan istri Pak Misdi.

“Adian sih enggak bilang-bilang mau ke sini. Alakadarnya saja ya. Ini ibunya bikin bakso. Ada mienya juga. Ini pakai nasi supaya kenyang.”

Kami pun makan. Pak Misdi menemani kami bersantap siang di meja makan. Obrolan tetap saja berlanjut. Pak Misdi bertanya ke Novi, kabar anak-anak Ibu Kur yang lain. Indah dan Dini sesekali menimpali.

Bapak Misdi Hartono. | Adian Saputra
Bapak Misdi Hartono. | Adian Saputra

Usai makan siang, kami salat zuhur.

“Ini yang ngerjain ya tukangnya Mbak Aan semua, Mas Adian. Saya sama Bapak ikut aja pokoknya. Ini juga pintunya belum sempat dicat, tapi karena kayunya bagus, ya untuk sementara begini dulu,” kata istri Pak Misdi.

Usai salat, obrolan lanjut di ruang depan. Saking senang, nyaris kami lupa foto-foto. Di momen menjelang pulang inilah, kami berfoto dengan Pak Misdi.

“Ibunya Adian sudah pensiun juga ya?” tanya Pak Misdi.

“Sudah, Pak, tahun 2015. Ibu juga beberapa tahun sebelum pensiun, kelar juga S.Pd-nya.”

“Alhamdulillah.”

Istri Pak Misdi menambahkan, “Waktu Mas Adian nikah, kami tidak hadir. Kayaknya pas Bapak sakit. Tapi kalau pas adiknya Mas Adian nikah, kami hadir.”

“Iya, Bu, enggak apa-apa. Iya, pas nikahan Susan, adik saya, Bapak dan Ibu hadir. Ada fotonya kok di rumah.”

Indah nyeletuk. “Oh, anak guru semua ya kamu orang.”

Saya, Novi, dan Dian anak guru, guru SD, sama seperti Pak Misdi dan istri.

Jarum jam sudah hampir menempel di angka 2. Kami pun pamit. Bingkisan yang kami siapkan kemarin, pas datang, sudah kami berikan. Tinggal amplop berisi uang alakadarnya, masih ada di saya.

Kami pun mohon diri.

“Novi, kasih tahu Ibu Kur, main ke sini ya.”

“Ya, Pak, insya Allah,” jawab Novi.

“Nanti kami insya Allah main ke sini lagi Pak, ajak kawan-kawan alumni 6C yang lain,” kata Dian.

Kami pun bersalaman. Saya memeluk Pak Misdi. Sebelum pulang, saya selipkan amplop itu ke saku kaus Pak Misdi.

“Amanat kawan-kawan, Pak.”

Alhamdulillah, silaturahmi dengan guru kami semasa SD dahulu sudah ditunaikan. Amanat kawan-kawan sudah pula kami sampaikan. Insya Allah lain waktu bisa berkunjung ke sana lagi bersama wadyabala yang lebih banyak. Salam takzim kamu buatmu, Pak Misdi Hartono. Semoga selalu dalam lindungan dan keberkahan Allah Swt. Terima kasih atas ilmu yang Bapak berikan kepada kami.(*)

About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Ilustrasi Amien Rais pada buku saya Menulis dengan Telinga. Ilustrasi dibikin teman saya Tri Purnajaya. | Dok Pribadi

Lima Menit Menahan Panas Bodi Mobil Tumpangan Amien Rais

Nama Amien Rais dalam beberapa hari belakangan mengemuka. Dalam berita yang kita simak di media …

14 comments

  1. Wah pak misdiiii. Saya alumnu teladan lulusan 2000 apa 2001 ya lupa. Masih ketemu pak misdi. Emang ga kenal, tp wajahnya familiar sekali. Jd kangen masa-masa sd teladan.

  2. jadi malu, saya nggak inget sama sekali guru-guru SD saya bang, abis dulu pindah-pindah sekolah mulu..

  3. Jadi inget masa puluhan tahun yang lalu. Seruuu.. btw, jadi kita enggak usah ngebakso lagi ya, bang. Pan udah di rumah Pak Misdi…

  4. Huhuhu, terharu. Jadi kangen guru2 SD. Moga Pak Misdu sehat terus ya, Bang. Btw elu tua juga ya, Bang. Gua masih piyik2, lu dah lulus SD. *lalu kabur menyelamatkan diri* 😀

    • Dia mah enak di awal aja komentarnya. Begitu di ujung, beuh tua lagi. Justru itu kan keren. usia segini, anak SMP aja masih manggil gua kak, wakakakaka. Ya wajar kalau mahasiswi unyu gua manggil dosennya ini abang, qiqiqiqiqiq.

  5. Guru SD, biasanya guru yg paking berkesan

  6. Seru banget ya Bang bisa ketemu guru masih SD, kompak banget ada groupnya. Mantaap

  7. kirain tadi namanya pak mukidi bang hehehhhhe

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com