Selasa , Desember 11 2018
Home / Opini / Membagi Saham, Ikhtiar Menjaga Ruang Redaksi dari Intervensi yang Bisa Bikin Mati

Membagi Saham, Ikhtiar Menjaga Ruang Redaksi dari Intervensi yang Bisa Bikin Mati

Logo jejamo.com.
Logo jejamo.com.

Pembahasan perihal modal dan saham dalam perusahaan pers disebutkan pada Pasal 10 Undang-Undang Pers. Disebutkan, perusahaan pers memberikan kesejahteraan kepada wartawan dan karyawan pers dalam bentuk kepemilikan saham dan atau pembagian laba bersih serta bentuk kesejahteraan lainnya.

Di Bandar Lampung, sepengetahuan penulis, sudah ada beberapa media yang membagi sahamnya kepada wartawan dan karyawan. Termasuk di tempat kami bekerja. Posisi saya adalah satu dari tujuh pemegang saham.

Dan perjanjian awal, sebagai pemimpin redaksi, saya masih mendapatkan hak berupa gaji bulanan. Meskipun demikian, turbulensi keuangan pada medio 2017 membuat saya mengambil keputusan silakan tidak lagi digaji tapi porsi saham saya ditambah.

Barangkali lantaran porsi saham, meski sudah ditambah, belumlah mayoritas, cara pandang, cara bersikap, dan cara bekerja saya barangkali masih dominan pekerja. Benar bahwa adanya saham itu membuat kedudukan saya sebagai pemimpin redaksi bisa menjaga ruang redaksi dari intervensi yang berlebihan. Namun, di tempat lain, situasinya malah tidak menjadi baik.

Ada media massa yang memang memberikan saham kepada semua wartawannya. Saban tahun ada rapat umum pemegang saham. Saya belum mengecek sejauh mana pembagian keuntungan yang diberikan setiap tahun.

Namun, yang saya ketahui, wartawan dan pekerja persnya tidak diberikan gaji. Pemasukan mereka bergantung pada iklan yang mereka dapatkan. Si wartawan juga dipersilakan mencari iklan untuk kebutuhannya sehari-hari. Entah perihal bagaimana ruang redaksi mereka bisa dijaga independensinya.

Itu buat saya bukan contoh yang baik. Makna pasal itu tentu punya nawaitu yang baik. Pembuat kebijakan ingin agar posisi Wartawan dan pekerja media lainnya setara dengan pemilik modal. Dan boleh jadi si empunya saham paling besar juga berposisi sebagai pemimpin redaksi.

Media massa beruntung jika si pemilik yang juga pemimpin redaksi punya visi yang bagus soal media massa. Yang menjadi persoalan adalah jika si empunya media massa tidak mempunyai kapasitas jurnalisme memadai.

Yang lebih parah, kalau tak tahu sama sekali jurnalisme dan hanya melihatnya dari kacamata bisnis.

Dalam konteks inilah amanat dalam Undang-Undang Pers tadi diperjuangkan. Bagi media massa yang baru akan tumbuh, posisi kalangan wartawan, yang mungkin terwakili oleh salah seorang yang didapuk menjadi pemimpin, mesti ada yang memperjuangkan.

Maksudnya adalah berusaha semaksimal mungkin agar semua wartawan ini memiliki saham. Dan nama mereka mesti tercatat pada akta notaris. Kesadaran semacam ini penting. Bahkan, super-penting.

Dengan membagi saham semacam ini, posisi ruang redaksi bisa lebih sehat. Wartawan juga posisi yang penting jika manajemen hendak mengambil keputusan.

Poin lain yang juga mesti diperjuangkan adalah gaji pokok wartawan tetap harus diberikan. Tidak boleh lantaran beralasan sudah dikasih saham, gaji ditiadakan. Wartawan mau makan apa jika tak ada gaji pokok untuk menjamin kehidupan keluarga. Toh persentase yang mereka miliki juga tidak mayoritas.

Menilik soal intervensi, jika merujuk pada pengalaman empiris dan juga informasi dari beberapa sumber, tak ada media yang benar-benar bebas dari intervensi meski dalam skala minimalis.

Intervensi tidak hanya datang dari pemilik modal, tapi bisa datang dari siapa saja. Secara sederhana saja. Kalau kita punya kawan satu kampus dahulu kemudian meminta agar aktivitas organisasinya dimuat, buat saya itu “intervensi” juga.

Meski ada nilai berita, bentuk permintaan itu, apalagi atas dasar tidak enak, juga wujud intervensi dalam skala minimal.

Yang kita jaga-jaga benar adalah intervensi itu sampai merasuk ke ruang redaksi, mengancam kebebasan, membuat suasana menjadi tidak nyaman, dan berpotensi mendatangkan masalah. Itu yang dijaga.

Tidak ada media massa yang benar-benar bersih dari kepentingan pemilik modalnya. Tinggal bagaimana pemimpin redaksi bisa kokoh nan lentur menyikapinya. Karni Ilyas bilang, pandai-pandai meniti buih, selamat badan sampai ke seberang.

Pembagian saham adalah ikhtiar kita menjaga ruang redaksi tetap sehat. Andaipun ada ketidakcocokan dengan manajemen secara umum, redaksi masih bisa punya amunisi untuk melawan. Setidaknya bertarung agar newsroom-nya tetap sehat dan independen.

Dan jika skenario terburuk itu adalah keluar, kita masih ada tabungan dari saham di perusahaan. Itu bisa dijual kepada pemilik mayoritas sehingga berpeluang mendapatkan uang tunai. Selanjutnya, ya cari kerja di media massa lain dengan tetap melanjutkan sikap meminta saham di perusahaan yang baru.

Pekerjaan rumah kita sebetulnya ya ini. Pasalnya, kesadaran teman-teman di media massa agar punya saham di perusahaan tempat dia bekerja, belum menjadi tradisi. Setidaknya itu yang saya baca dari perkembangan media online di Lampung.

Dari sisi psikologis, apa sih manfaatnya wartawan dan karyawan media punya saham juga? Kita akan merasa bekerja di media sendiri. Media yang di dalamnya ada kontribusi saham kita. Saham itu maknanya investasi.

Meski kita tidak menyumbangkan uang sepeser pun, kerja kita dalam sumbangan pikiran, ide, gagasan, akses, dan lainnya itulah yang disetarakan dengan uang tunai.

Kesadaran ini menjadi penting agar selepas usia produktif sebagai pekerja lewat, kita masih bisa berkiprah di perusahaan media massa. Dan kerja-kerja di masa tua itu tentu tidak lagi menguras fisik sebagaimana layaknya masa bekerja produktif.

Dan yang namanya usaha, orientasinya mencapai laba sebenar-benarnya. Jika itu benar-benar terealisasi, kita pun mendapat bagian.

Orang Barat bilang passive income.
Undang-undang sudah mengamanatkan itu. Tinggal di lapangan kita berusaha mengejawantahkannya. Semoga kita bisa.(*)

About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Dokter Karina.

Stunting dan Sebatang Rokok

Kemarin ada dua kawan kami anggota AJI Bandar Lampung yang menikah. Yang pria bernama Rudiyansyah, …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com