Jumat , September 22 2017
Home / Kiat Kepenulisan / Mengubah Angka Statistika Menjadi Buku yang Enak Dibaca

Mengubah Angka Statistika Menjadi Buku yang Enak Dibaca

Pelatihan menulis buku hasil Sensus Ekonomi 2016 BPS Lampung. | Dokumentasi Aprilia Nurita Sari
Pelatihan menulis buku hasil Sensus Ekonomi 2016 BPS Lampung. | Dokumentasi Aprilia Nurita Sari

Sejujurnya ini tugas yang berat. Belum pernah dalam pengalaman mengisi pelatihan menulis, saya merasa memiliki beban yang cukup berat. Saya tidak sedang lebay. Ini memang berat. Soal mengisi pelatihan, memang sudah terbiasa, dari SMA malahan. Namun, tatkala dua wadyabala Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, Mbak Risma dan Mas Yosep, bertandang ke kantor dan mengutarakan maksudnya, saya langsung menangkap kesan tantangan kali ini berbeda.

Ringkasnya, BPS Lampung meminta kepada saya untuk memandu teman-teman di BPS kota dan kabupaten untuk menulis buku. Bahannya dari mana? Bahan awal adalah hasil Sensus Ekonomi 2016.

Mencoba tantangan baru adalah hal yang baik. Maka, saya pun mengiyakan. Usai keduanya memberikan kisi-kisi dalam pelatihan ini dan memberi saya beberapa lembar data statistik dan kerangka buku dari BPS Pusat, saya mulai “bekerja”. Tentu tak langsung menulis makalah ini, tetapi membaca terlebih dahulu kerangka yang sudah dibuat. Intisarinya, dengan bahan Sensus Ekonomi 2016, BPS diminta membuat bukunya. Tema besarnya adalah “Potensi Ekonomi Wilayah”.

Teman-teman yang baik, ada beberapa panduan secara umum yang ingin saya sampaikan.

Pertama, tidak semua orang punya kemampuan dan kesukaan dalam membaca angka-angka

Beberapa orang mungkin akan mengatakan, ya kalau tidak suka, tidak apa. Jangan dibaca. Hehehe. Ini tentu bukan solusi. Yang dibutuhkan adalah kita bisa membantu pembaca untuk membaca angka-angka itu dengan narasi yang enak dibaca. Tugas kita adalah bagaimana menarasikan angka-angka itu dengan kata, kalimat, alinea yang enak dibaca, mudah dicerna, dan mudah dipahami oleh pembaca. Sekalipun yang membaca itu mereka yang sama sekali tak punya basis pengetahuan dalam statistik. Berat ya? Insya Allah enggak kok.

Kuncinya adalah pada kemampuan kita menjelaskan secara detail perihal hasil sensus. Kita bisa membandingkan hasil tahun ini dengan tahun lalu. Kita bisa membandingkan satu potensi ekonomi dan potensi ekonomi lainnya. Kita bisa mengomparasikan antara sumber ekonomi potensial dengan yang belum optimal. Dan kita pun bisa menjelaskan latar mengapa hasil sensusnya demikian, mengapa itu terjadi, apa penyebabnya, apa yang akan terjadi di masa depan, apa yang bisa dilakukan oleh warga, apa yang mestinya dikerjakan oleh pemerintah, apa yang bisa dilakoni pelaku usaha, dan sebagainya.

Kedua, orang mau membaca itu kalau ada manfaatnya buat mereka

Sasaran buku ini tentu pemangku kepentingan yang berkenaan dengan pemerintahan. Buku ini juga bisa menjadi referensi untuk kelompok mahasiswa dan pengkaji ekonomi. Tidak menutup kemungkinan untuk pelaku usaha untuk melihat sejauhmana eksistensi usahanya di tanah Lampung.

Orang akan membaca itu karena mereka butuh informasi. Jika di dalamnya mengandung banyak informasi dan semacam advis, pembaca pasti akan senang. Maka, buku yang akan disusun juga bisa menjawab pertanyaan dari pemangku kepentingan di Lampung.

Ketiga, mudahkan, jangan dipersulit

Kita menulis buku ini untuk dibaca orang. Orang mau baca jika kontennya mudah ia cerna. Mungkin ada kosakata yang khusus dan tidak bisa dicari padanannya ke dalam bahasa Indonesia yang baku. Namun, itu masih bisa dijabarkan sehingga orang mengerti maksud dari buku itu. Itulah tugasnya penulis. Ia harus memastikan bahwa narasi yang sedang ia susun dimengerti oleh pembacanya.

Beberapa peserta kelas menulis biasanya bertanya bagaimana menulis kalimat dengan baik. Jawaban atas pertanyaan ini mudah. Tentu kita pernah belajar bahasa Indonesia semasa SD. Guru bahasa Indonesia mengajarkan kepada kita untuk menulis dengan pola SPOK (subjek, predikat, objek, keterangan). Pakai saja pola itu. Itu sudah benar.

Hasil survei Fog Index juga memberikan panduan kepada kita untuk menulis pendek-pendek. Dalam satu kalimat yang bagus terdiri dari 8-16 kata. Peter Henshall dan David Ingram dalam “Menjadi Jurnalis” memberikan panduan untuk menulis dengan konsep KISS (keep it short and simple/bikin pendek dan sederhana).

Keempat, paparkan, bukan berlebihan.

Ada kalanya buku ditulis berkelewahan. Berkelewahan ini artinya berlebihan. Maksudnya, narasi yang dibangun di buku itu sesungguhnya hanya memanjang-manjangkan kalimat saja. Kadang, ada pengulangan atau redundant di satu bab pada bab lainnya. Ini sedapat mungkin kita hindari.

Buku yang hendak kita tulis memang akan menguraikan potensi ekonomi Lampung. Untuk itu, semaksimal mungkin kita bisa menulis dan menganalisisnya secara tajam, bagus, dan bernas. Walaupun begitu, bukan berarti kita memanjang-manjangkan kalimat atau alinea sehingga buku itu kelihatan tebal atau layak disebut buku.

Untuk menghindari ini, itulah kegunaan kerangka karangan atau ragangan. Syukurnya, teman-teman penyusun kerangka buku sudah menyusun panduan sederhana ini. Dengan demikian, kita bisa mengikuti rel yang sudah dibuat.

Kelima, “basah”, tidak “kering”

Untuk buku yang teman-teman susun, saya mengusulkan ditambah dengan beberapa reportase langsung ke lapangan. Menulis buku tentu bukan sekadar menarasikan angka-angka hasil Sensus Ekonomi ini. Saya berpendapat, melakukan reportase langsung juga penting untuk mendapatkan jiwa dalam tulisan itu. Anak muda sekarang bilang “chemistry”. Ini penting agar senyawa tulisan itu menyatu dalam raga dan pikiran kita. Insya Allah ini tidak berlebihan kok.

Kenapa saya menganjurkan melakukan reportase langsung. Ini banyak gunanya. Pertama, kita bisa menambah bahan tulisan dari hasil sensus. Kedua, perspektif kita juga akan bertambah karena melakukan wawancara langsung. Ketiga, membuat buku yang kita tulis itu–dalam  istilah kami para jurnalis–basah, tidak kering.

Sebuah laporan soal ekonomi akan “kering” jika menyajikan gagasan para ekonom, institusi pemerintah, bahkan mungkin hasil dari sebuah sensus atau survei. Namun, itu akan “basah” jika ditambah dengan turun ke lapangan dan menuliskan dua sampai tiga profil berkenaan dengan topik yang hendak ditulis.

Contoh mudahnya begini. Ada tabel berjudul Distribusi Usaha/Perusahaan Menurut Kategori Lapangan Usaha (pesen). Pada tabel itu, persentase lapangan usaha yang menyumbang angka paling besar sebesar 57,46 persen adalah poin G. Yakni, perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor.

Buat saya, memang ada gambaran mengenai ini. Kira-kira dalam bayangan pembaca, ia akan langsung teringat usaha-usaha yang berkenaan dengan ini. Mungkin juga ia akan manggut-manggut sambil mengingat-ingat di kota ini apa saja usaha yang masuk dalam kelompok itu.

Supaya pembaca juga mendapat gambaran riil mengenai poin ini dan ada sisi reportase yang baik, kita bisa memilih tiga profil usaha pada kelompok ini. Bisa diambil yang besar, sedang, dan kecil. Wawancarailah pemilik usaha atau manajernya. Tanyakan sebanyak mungkin tentang keseharian usaha itu. Apa saja tantangan mereka, keuntungannya berapa, berapa karyawannya, apa yang membuat mereka bertahan berusaha di bidang itu, apakah ada cerita-cerita menarik seputar usaha mereka, dan sebagainya.

Kumpulkan semua bahan itu dengan baik. Rekamlah pernyataan mereka. Jangan lupa ambil foto mereka. Soal bagaimana pula ini menulisnya, ingatkan saya pada saat pelatihan ya. Saya akan pandu sedikit bagaimana menulis feature sehingga bisa menjadi “sisipan” artikel pada buku yang teman-teman susun. Meski demikian, ini anjuran. Buat saya, ini tidak mereduksi sisi ilmiah dalam buku yang teman-teman susun. Justru, ini akan memperkaya dan membuat isi buku berbeda dengan yang mungkin dilakukan teman-teman di provinsi yang lain. Ini Lampung, Yay!

Mengulas Bab per Bab

Pada kerangka buku yang sudah disusun, ada beberapa bab yang sudah dibuat. Teman-teman menyesuaikan saja. Jika nanti bahan yang ada melimpah, boleh jadi ada tambahan bab, selain yang sudah ada.

Semakin detail, semakin bagus. Setiap bab memuat pokok-pokok pikiran yang relatif sama dalam pembahasan. Jika kita merasa ada pokok bahasan yang bisa kita keluarkan menjadi bab sendiri, jangan ragu menjadikan itu bahasan tersendiri. Dengan demikian, kita sudah membantu pembaca untuk lebih mudah memahami isi buku yang dibuat.

Bab I

Pada Bab I mengenai potensi ekonomi, panduannya adalah menggambarkan tenaga kerja dan angkatan kerja secara kuantitas. Kemudian, menggambarkan data Sensus Ekonomi 2016 bahwa usaha mikro kecil menjadi sumber mata pencarian utama.

Supaya awam memahami dengan baik, silakan ditulis juga definisi tenaga kerja dan angkatan kerja secara teori. Lalu, angka yang dihasilkan dalam sensus dipaparkan. Kemudian jelaskan makna dari angka itu. Untuk skop Lampung, bisa digambarkan untuk semua kota dan kabupaten. Mana angka yang paling tinggi, mana yang paling kecil. Pembaca bisa langsung memahami pada kota atau kabupaten mana yang secara sumber daya manusianya melimpah.

Apakah angka itu bisa menggambarkan hubungan dengan pelaku ekonomi dalam skop mikro dan kecil. Atau jangan-jangan, tenaga kerjanya banyak berkiprah di sektor yang lain. Silakan dipaparkan.

Jangan ragu untuk memberikan penafsiran yang positif terhadap hasil survei. Sepanjang itu dibangun dengan fakta dan gagasan, itu bagus. Teman-teman di BPS adalah juru tafsir sahih terhadap hasil sensus selain mereka yang berkepentingan dengan hasil sensus.

Sebagai contoh, survei Rakata Institute berkenaan dengan Pilgub Lampung bisa ditafsirkan sesuai dengan konteksnya. Siapa paling populer, siapa paling tinggi elektabilitasnya, berapa persen masyarakat yang puas terhadap petahana, dan sebagainya. Media massa yang mendapat hasil survei, bisa menuliskan sesuai dengan konteks yang mereka inginkan. Itu bisa menjadi bad news atau good news, bergantung pada pembacaan atas hasil survei.

Hasil sensus juga demikian. Tim penulis diperkenankan menjelaskan apa makna dari angka-angka itu. Misalnya, Bandar Lampung yang paling sesuai konteks antara jumlah tenaga kerja dengan usaha mikro dan kecil yang dijalankan warganya. Warga Lampung Tengah ternyata tak lagi banyak berkiprah di lapangan pertanian meskipun lahan mereka luas ketimbang daerah lain, dan sebagainya.

Pada konteks tenaga kerja, jika ada yang menarik, bisa ditulis dua daerah yang paling banyak tenaga kerja dan angkatan kerjanya. Kemudian di-head to head-kan. Berapa persen dari mereka yang bekerja di sektor pertanian. Berapa persen yang berusaha di ekonomi kreatif. Berapa persen yang bekerja sebagai karyawan pada usaha-usaha yang ada di daerah itu.

Pernah lihat kan acara sepakbola di televisi, ada head to head antara satu kekuatan tim dengan tim lain. Ini juga bisa dipakai sebagai cara membandingkan data antara satu daerah dengan daerah lain.

Masih pada bab ini, pada poin B, kita diminta menjelaskan tentang  usaha mikro dan kecil menjadi sumber mata pencarian utama masyarakat.

Usaha mikro dan kecil tentu beragam. Jika ada spesifikasi tertentu, bisa dijelaskan dalam buku. Bisa juga dijelaskan dalam pengategorian tertentu. Usaha jenis apa yang paling banyak, berapa tenaga kerja yang terserap pada titik itu, trennya seperti apa dari tahun ke tahun, berapa besar sumbangan mereka pada pendapatan daerah, dan sebagainya.

Jika ada satu jenis usaha yang memang menarik untuk dijadikan profil, silakan melakukan reportase. Ini akan berguna sehingga pembaca mempunyai contoh usaha yang dimaksud dalam tulisan.

Jika ada empat saja jenis usaha mikro dan kecil yang bisa diulas, semakin baik. Semakin rinci, semakin bagus. Ditambah ada reportase langsung ke lapangan, makin ciamik naskahnya.

Perspektif pembaca akan semakin kaya jika kita bisa “meminjam” analisis dari dosen ekonomi kampus tertentu. Ia kita minta menjabarkan perihal itu. Analisis dari ahli tentu semakin menambah bobot buku tersebut. Satu tema bisa kita gambarkan dari beberapa sisi. Dengan demikian, pembaca bisa memahami maksud dari tulisan secara keseluruhan. Mudah-mudahan sampai di sini bisa dipahami.

Usulan:

Judul Buku: Memotret Potensi Ekonomi Bandar Lampung

Bab I: Jantung Ekonomi Itu Bernama Bandar Lampung

  1. Kreativitas Pemantik Utama Pertumbuhan
  2. Potret Perdagangan dan Industri Kreatif Kota Tapis
  3. Analisis Ahli

 

Bab II

Pada kerangka yang dibikin BPS Pusat, Bab II ini menceritakan tantangan perekonomian. Pada poin A, pembahasan seputar kualitas sumber daya manusia yang masih rendah. Poin B tentang infrastruktur ekonomi yang terbatas. Dan pada poin C tentang permasalahan lain yang menghambat perkembangan ekonomi. Coba kita telisik masing-masing poin.

Pada poin A, kita diminta menggambarkan kelemahan SDM dan potret ketenagakerjaan dari hasil Sensus Ekonomi 2016.

Jika menggambarkan kelemahan SDM, tentu ada pemicunya. Apa saja pemicunya itu. Mungkin dari angka putus sekolah, mungkin dari minimnya sekolah berkualitas, boleh jadi dari kepiawaian guru dalam mengajar, bisa juga akses kepada entitas edukasi yang minim, atau kurangnya lembaga seperti balai latihan kerja, dan sebagainya.

Sebetulnya pada poin A ini, jika hasil sensus menunjukkan sesuatu yang positif, penggambaran kita adalah hal-hal yang sebaliknya. Apa yang membuat kualitas sumber daya daerah itu tinggi, bagaimana cara mereka berkreasi, sudah sejauh mana peran entitas pendidikan berperan dalam mencerdaskan, dan sebagainya.

Apalagi kalau akses terhadap dunia pendidikan di daerah itu relatif tidak ada masalah. Warga mudah mendapatkan akses sekolah yang bagus dan bermutu, biaya pendidikan pun sudah banyak ditanggung pemerintah pusat dan daerah, mungkin juga ada kepedulian korporasi besar dalam membina anak-anak yang berprestasi, dan sebagainya.

Pada poin B, kita diminta menggambarkan infrastruktur ekonomi. Kita bisa memaparkan kondisi jalan, pasar, lembaga keuangan, dan sebagainya.

Kemudian kita juga diminta menggambarkan fasilitas penunjang pengembangan ekonomi yang masih terbatas, misalnya lembaga pelatihan kerja yang terbatas dan masih terpusat di kota.

Perihal jalan tentu ada banyak data yang bisa diungkap. Silakan itu digambarkan, dinarasikan. Termasuk juga soal jumlah pasar tradisional dan sebagainya. Teman-teman yang di Lampung Tengah atau Lampung Timur, mungkin akrab soal jalan ini.

Jika memungkinkan diulas satu ruas jalan yang memang rusak parah. Gambarkan kondisinya. Tingkat keparahannya seperti apa. Lubangnya sebesar apa. Apakah dari cerita warga di sana pernah ada truk terbalik atau kejadian lain.

Demikian pula soal fasilitas penunjang pengembangan ekonomi yang masih terbatas. Misalnya minimnya lembaga pelatihan kerja.

Pada poin C kita diminta menulis mengenai permasalahan yang menghambat perkembangan ekonomi. Masing-masing daerah tentu berbeda permasalahannya.

Soal urbanisasi misalnya. Ini bisa diulas dengan menarik. Untuk Bandar Lampung, seberapa besar tingkat pendatang ke kota ini. Bekerja pada sektor mana saja pendatang itu. Apakah tingkat kepadatan di kota ini memang disumbang oleh tingkat urbanisasi atau tidak, dan sebagainya.

Kondisi sosial juga bisa diulas. Misalnya untuk Tanggamus yang potensi sektor perikanannya lumayan. Apa kendalanya. Apakah hasil tangkapan nelayan mencukupi pasar atau tidak. Bagaimana dengan perikanan daratnya, kendalanya di mana, dan sebagainya.

Usulan:

Judul: Memecah Karang Masalah Ekonomi

  1. Sumber Daya Melimpah, Akses Edukasi Susah
  2. Ketika Ruas Jalan Bak Lubang Neraka
  3. Urbanisasi Bikin Kompetisi Makin Tinggi

Bab III

Pada bab ini, kita diminta memaparkan tentang pengembangan potensi ekonomi  lokal. Pada bab ini kita bisa dalam menjabarkan satu demi satu potensi ekonomi lokal.

Jika ada satu sektor yang dominan atau unik, silakan dieksplorasi secara mendalam. Misalnya untuk Pesawaran yang kaya dengan potensi wisata bahari. Ini menjadi penting untuk dijabarkan. Begitu banyak potensi wisata bahari yang menjadi destinasi wisata bagi para pelancong. Ada nama Pulau Pahawang, Pantai Mutun, Pantai Klara, dan sebagainya.

Selain itu, bisa juga soal perajin tapis yang banyak di Pesawaran. Ini menjadi noktah yang menarik untuk dipaparkan dan dikaji secara mendalam. Apalagi kalau bisa mengambil satu sampel perajin tapis atau bahkan suatu desa yang kebanyakan perempuan dan anak gadisnya membuat tapis.

Buat Bandar Lampung, dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan tempat nongkrong cukup pesat. Ada banyak kafe yang menawarkan suasana yang enak plus makanan yang nikmat. Hampir saban bulan ada saja tumbuh kafe-kafe baru yang menjadi pusat nongkrong anak muda dan keluarga.

Usulan judul: Wisata Bahari Mesin Penggerak Ekonomi

Pembahasan pada bab-bab selanjutnya bisa disesuaikan dengan kekhasan masing-masing daerah.

Ringkasan

  1. Judul buku wajib menarik. Meskipun berlatar sesuatu yang akademik, tim mesti mampu menyajikan judul yang enak dibaca, menggugah orang untuk membaca, dan memandu orang memahami keseluruhan teks.
  2. Bahasa mesti renyah dinarasikan. Bikinlah kalimat dengan konsep Fog Index, yakni satu kalimat itu bagus ditulis dalam 8-14 kata. KISS, keep it short and simple. Bikin kalimat itu pendek dan sederhana.
  3. Gambarkanlah. Buku yang baik memandu pembacanya mengerti akan isi teks. Maka itu, uraikan dengan baik. Bikin pembaca terbayang dengan isi dan gagasan atau analisis dalam buku ini. Bikin dalam isi kepala pembaca theatre of mind. Maka itu, penambahan reportase yang kemudian ditulis dalam bentuk karangan khas atau feature, bisa menambah bobot kenikmatan orang membaca.
  4. Bikinlah ilustrasi yang menarik, sesuai dengan konteks. Grafis tak melulu berkenaan dengan garis. Ia bisa berbentuk foto yang diubah sedemikian rupa sehingga menarik dilihat, mudah dipahami, dan akrab dengan pembaca. Sekian.

About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Saya dan Hengky Kurniawan. | Sigit Pamungkas

Bikin Banana Foster Lampung, Apa yang Kau Cari Hengky Kurniawan?

Judul sengaja dibuat agak menghentak, hehehe. Biar ada yang baca. Dalam dunia online, judul itu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com