Jumat , September 22 2017
Home / Cerita Anak / Panen Paku

Panen Paku

 

Karena tak ada ilustrasi yang pas, saya kasih foto anak saya saja: Nuh dan Mirai.
Karena tak ada ilustrasi yang pas, saya kasih foto anak saya saja: Nuh dan Mirai.SUDAH seminggu ini, ada saja ban sepeda motor yang bocor di jalanan Desa Makmurjaya. Kemarin saja ban motor pak kepala desa kempis gara-gara kena paku kecil. Padahal sebelumnya jarang ada motor yang bannya kempis kena paku di jalanan ini.Jalanan menuju Desa Makmurjaya ini memang bukan aspal yang mulus. Tapi kondisi jalannya masih bagus.

Siang itu, Fajrun dan kawan-kawannya pulang dari sekolah melewati jalanan desa. Fajrun kini kelas VI. Ia bersama teman-temannya memang terbiasa pulang jalan kaki bersama-sama. Ada Reza, Novis, Azmi, dan Danang.

“Heran ya, kok motor kalau lewat jalan ini suka pecah ban,” kata Fajrun.

“Kena paku kali,” kata Danang.

“Kalau paku, kok sering banget ada yang pecah. Ini hampir tiap hari,” lanjut Fajrun.

“Iya benar. Motor pak kepala desa saja kemarin pecah ban di jalan ini. Kasihan ia mesti dorong sampai jauh sampai ketemu tambal ban,” Reza menanggapi.

“Aduh!” Tiba-tiba Danang menjerit kesakitan.

Sebuah paku kecil hampir saja menancap di kaki Danang.

“Makanya kalau jalan itu sepatu dipakai. Mentang-mentang sepatu baru, sayang ya, hehehe,” kata Fajrun bercanda.

Danang dan kawan-kawannya duduk sejenak. Fajrun mengambil paku kecil yang berwarna hitam itu. Untung tak sampai masuk ke kaki Danang.

“Pakunya enggak ada karatan. Masih baru kayaknya,” kata Fajrun.

“Kebetulan aja kali Jrun. Kalau mau dicari, banyak juga mungkin paku karatan di jalanan,” jawab Novis.

Semua kemudian pulang. Sore harinya, Fajrun dan Danang pulang bermain dari lapangan. Mereka membawa layangan dan benang yang tergulung di kaleng. Dari kejauhan mereka melihat sebuah mobil boks dengan muatan penuh material bangunan.

Pada bagian atas, terlihat beberapa tumpukan kotak berisi paku.

“Nang, ikuti mobil boks itu yuk,” ajak Fajrun.

“Ngapain?” tanya Danang.

Fajrun diam saja dan berlari kecil mengikuti mobil boks itu. Danang setengah berlari mengikuti kawannya itu.

Dari kejauhan mereka melihat, beberapa paku kecil yang berada dalam kotak paling atas di antara tumpukan itu mental keluar dan jatuh di jalanan.

“Nang, lihat enggak. Nih paku,” kata Fajrun.

“Iya, Jrun, rupanya paku yang nyebar di sini akibat jatuh dari kotak di mobil boks itu,” jawab Danang.

“Pak sopiiirrr, tungguuuu!” Fajrun berteriak.

Sopir mobil boks itu kemudian berhenti mendengar teriakan jauh Fajrun. Usai berhenti, Fajrun mendekati mobil itu.

“Pak, maaf. Itu tumpukan paku di bak terbuka mobil bapak keluar-keluar. Pakunya kecil-kecil, Pak. Suka bikin ban motor kempis,” Fajrun memberikan penjelasan.

Pak Sopir kemudian keluar dan memeriksa bak terbuka mobil yang ia kemudikan. Ia manggut-manggut.

“Maaf ya Dik, saya enggak lihat. Iya memang sudah dua kali ini saya lewat jalan ini antar pesanan toko. Enggak tahu rupanya paku yang kecil di bagian atas banyak yang jatuh. Aduh, saya minta maaf ya, Dik,” jawab sopir itu.

“Ya enggak apa-apa, Pak. Yang penting, ditutup saja Pak itu kotak paku kecilnya. Daripada jatuh lagi kalau pas jalan jelek,” kata Danang.

“Makasih ya Dik,” kata sopir. Ia pun berlalu setelah menutup kotak paku kecil dengan terpal.

“Kita bersihin paku-paku di sepanjang jalan ini yuk, Nang,” kata Fajrun.

“Kayakmana Jrun caranya?” tanya Danang.

“Gampang. Kita cari magnet. Kita taruh di ujung gagang sapu atau kayu. Yuk ikut aku,” kata Fajrun.

Di rumah Fajrun sibuk mengikat magnet ke ujung kayu. Ia lapisi magnet dengan kain tipis yang halus. Fajrun membikin dua. Satu ia pegang, satunya lagi di Danang.

“Aku pernah lihat di televisi, polisi di Jakarta kalau bersihin jalan dari ranjau paku kayak gini,” kata Fajrun. Danang mengangguk. Keduanya kemudian mulai berjalan dari ujung jalan ke ujung jalan yang tadi dilalui mobil boks pengangkut paku.

“Panen paku kita ya, Jrun,” ujar Danang.

Fajrun hanya tersenyum kecil. Di kaleng yang ia bawa, menumpuk paku kecil yang berhasil dipanen pakai magnet di ujung gagang kayu yang ia bikin.

“Insya Allah enggak ada lagi paku yang bikin ban motor warga di sini pecah ya Nang,” kata Fajrun.

“Amin, Jrun,” jawab Danang.(*)

About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Ilustrasi Amien Rais pada buku saya Menulis dengan Telinga. Ilustrasi dibikin teman saya Tri Purnajaya. | Dok Pribadi

Lima Menit Menahan Panas Bodi Mobil Tumpangan Amien Rais

Nama Amien Rais dalam beberapa hari belakangan mengemuka. Dalam berita yang kita simak di media …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com