Jumat , September 22 2017
Home / Uncategorized / Stunting dan Sebatang Rokok

Stunting dan Sebatang Rokok

Flash Blogging.
Flash Blogging.

Kemarin ada dua kawan kami anggota AJI Bandar Lampung yang menikah. Yang pria bernama Rudiyansyah, wartawan Lampung Post. Sedangkan yang perempuan bernama Vina Oktavia, wartawan Kompas. Keduanya kebetulan pendek ukuran tubuhnya.

Beberapa bulan lalu saat kami ngobrol santai dan ada kaitan dengan kesehatan, secara berseloroh, kami mengatai mereka “stunting”. Kebetulan obrolan waktu itu seputar kesehatan yang berkelindan dengan tema keseharian liputan kami. Pendek kata, stunting itu ukuran tubuh yang di bawah standar.

Diksi stunting, hari ini, Selasa, 12 September 2017, kembali saya dengar. Bedanya ini pada sebuah acara resmi yang ditaja Kementerian Komunikasi dan Informatika. Tema besarnya adalah Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dalam Penurunan Prevalensi Stunting.

Dokter Marina Darayanti dari Kementerian Kesehatan RI didapuk menjadi pembicara hari ini. Semua peserta rata-rata adalah narablog atau bloger. Tagar yang akan diramaikan hari ini adalah #TemuBlogger dan #FlashBlogging.

Paparan Dokter Marina.
Paparan Dokter Marina.

Paparan Dokter Marina ini enak disimak. Gaya bicaranya lugas dan bernas. Sayangnya, karena waktunya hanya lima belas menit, hanya pokok-pokok pikiran saja yang disampaikan.

Kata Dokter Marina, Stunting ini adalah kondisi tinggi badan seseorang yang di bawah standar. Namun, ini berkenaan dengan asupan gizi yang diperoleh, khususnya pada masa seribu hari pertama kehidupan.

Asupan gizi kepada seorang ibu yang hamil memang amat dibutuhkan untuk pembentukan kecerdasan dan pertumbuhan fisik jabang bagi yang dikandung. Maka itu, asupan gizi ini wajib diperhatikan.

Kata ibu dokter ini, seribu hari kehidupan ini akan menentukan perkembangan otak anak, metabolisme tubuh, daya tahan terhadap penyakit, kecukupan gizi, dan sebagainya. Satu hal yang dihindari adalah peluang seorang anak gagal tumbuh atau stunting.

Stunting, jelas Dokter Marina, bukan sekadar kondisi tubuh yang cebol. Kondisi tinggi badan itu tidak serta merta demikian. Ada hal yang mendahuluinya.

Paparan Dokter Marina.
Paparan Dokter Marina.2

Hal itu, lanjut dia, bisa dilihat dari rekam jejak kesehatan yang saban bulan diperiksakan ke Posyandu. Di situ bisa kelihatan, apakah anak itu pertumbuhannya normal atau tidak.

Anak yang pertumbuhannya tidak normal, kurus misalnya, bisa menjadi penanda awal ia stunting. Beda dengan anak yang asupan gizinya bagus tapi memang tinggi tubuhnya di bawah rata-rata.

“Pak Habibie itu stunting atau tidak? Ucok Baba stunting atau tidak,” tanya Dokter Marina.

Ia menjelaskan, Habibie dan Ucok Baba mempunyai tinggi badan di bawah rerata orang Indonesia karensa genetic. Kecukupan gizi mereka bagus. Bahkan, mereka mempunyai kompetensi akademik dan interpersonal yang bagus.

“Mereka itu cerdas dan ada passion-nya. Mereka tidak stunting,” ujarnya.

Dokter Marina menekankan sekali pentingnya intervensi saat mengetahui kondisi di seribu hari pertama kehidupan seorang bayi itu ada masalah. Ia mencontohkan, jika si ibu menderita anemia, intervensi mesti dilakukan dengan memberikan pasokan vitamin yang cukup. Sebab, jika dibiarkan, anemia itu akan berpengaruh pada tumbuh kembang bayi yang sedang dikandung.

Dokter Marina menjelaskan, keberadaan Posyandu menjadi penting untuk mengetahui tumbuh kembang bayi sejak dalam kandungan sampai lahir. Maka itu, ia meminta layanan di Posyandu kembali diaktifkan sehingga peluang bayi di Indonesia menjadi cebol, bisa diminimalkan.

“Meja lima biasanya yang paling penting perannya. Karena di situlah rekam jejak sejak ibu itu hamil bisa diperiksa. Termasuk juga perlakuan apa yang akan diberikan kepada si ibu yang sedang mengandung,” kata dia.

Paparan Dokter Marina.
Paparan Dokter Marina.

Dokter Marina mengutip data, 70 sampai dengan 80 persen ibu hamil belum tercukupi konsumsi energi dan proteinnya.

“Jangan sampai beli rokok dan pulsa bisa, tapi memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil tidak bisa,” kata dia.

Dokter Marina mewanti-wanti benar asupan nutrisi buat para ibu yang hamil ini. Ia tak habis pikir jika konsumsi tembakau seorang ayah dan kebutuhan pulsa malah mengalahkan angka belanja untuk kebutuhan nutrisi si istri yang sedang mengandung.

“Coba kalau diakumulasikan, berapa banyak pembelian rokok oleh seorang bapak, dibandingkan mencukupi nutrisi istri yang sedang mengandung dengan nutrisi bergizi tinggi,” kata dia.

Materi dalam Flash Blogging kali ini tidak hanya diberikan Dokter Marina. Seorang narablog perempuan tersohor pun, Mira Sahid, juga ditampilkan. Konten saat Mira memberikan materi, akan diketengahkan pada artikel yang berbeda. Terima kasih sudah mau membaca.

About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Saya dan Hengky Kurniawan. | Sigit Pamungkas

Bikin Banana Foster Lampung, Apa yang Kau Cari Hengky Kurniawan?

Judul sengaja dibuat agak menghentak, hehehe. Biar ada yang baca. Dalam dunia online, judul itu, …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com