Kamis , November 23 2017
Home / Opini / Terima Kasih Kompas, Terima Kasih Republika

Terima Kasih Kompas, Terima Kasih Republika

Headline Kompas dan Republika, Sabtu, 3 Desember 2016. | Adian Saputra
Headline Kompas dan Republika, Sabtu, 3 Desember 2016. | Adian Saputra

Aksi Super-Damai kemarin di Silang Monas alhamdulillah berlangsung dengan aman, damai, tertib, dan bersih. Mengharukan sekali menyaksikan jutaan massa tumpah ruah dengan tertib untuk melaksanakan doa dan salat Jumat bersama. Ini boleh disebut sebagai salah satu bahkan mungkin aksi terbesar yang pernah dilakukan kaum muslimin di Indonesia. Barangkali juga inilah aksi massa terbesar yang pernah dilakukan umat Islam di seluruh dunia. Masya Allah.

Sebagai orang yang sehari-hari berkarib dengan media massa, tentu menarik untuk menyigi pemberitaan media massa terhadap aksi malam kali ini. Memang benar, dari rekaman video yang diunggah banyak teman di media sosial, kita melihat ada rekan jurnalis dari MetroTV yang akhirnya tak bisa meliput lantaran diusili beberapa peserta aksi. Namun, jika memotret kejadian ini sebagai intisari berita atau angle, tentu tidak adil. Pasti ada saja satu-dua hal yang mungkin “mengganggu” dalam demo yang melibatkan jutaan orang.

Hari ini memang saya sudah berniat membeli koran untuk melihat apa angle atau headline alias berita utama surat kabar terbitan Jakarta. Sebab, sebagian masyarakat Indonesia memang masih begitu menikmati membaca koran ditemani kopi dalam gelas porselen dan kudapan ketimbang membaca senarai naskah yang demikian banyak di portal berita. Padahal, jika menyelisik pemberitaan web, kita bisa membaca lebih banyak sudut pandang dari peristiwa akbar itu. Tapi tak soal-lah itu. Koran tetap punya hati di masyarakat kita. Bacaan dengan bentuk fisik masih ada peminatnya. Mungkin tak afdal jika tak membaca koran untuk peristiwa sespektakuler ini.

Mari kita lihat apa isi dua koran yang menurut saya pantas di-head to head-kan: Kompas dan Republika. Pengambilan sampel dua koran ini buat saya menarik. Sebab, saat demo umat Islam pada 4 November yang lalu, banyak kawan-kawan yang membandingkan headline dua surat kabar terkemuka ini. Kompas mengambil angle ucapan Jokowi yang menilai ada aktor politik di balik aksi damai 411 itu. Kebetulan pula, ujung demo diwarnai kericuhan lantaran beberapa anak muda berpakaian sebuah organisasi kemahasiswaan Islam memang bentrok dengan aparat dan menimbulkan kegaduhan.

Sedangkan Republika dengan elegan menulis berita utamanya kala itu dengan “DEMO BERMARTABAT”. Sengaja saya tuliskan semua dengan huruf kapital karena memang itulah yang ditulis Republika.

Maka, tak salah kalau melihat isi kedua media massa itu hari ini dan kemudian mengomparasikannya. Apa saja  isi kedua media massa itu.

Yang tentu saja menarik ialah pilihan judul headline dua koran besar ini sama: Terima Kasih. Sama persis. Tak ada beda sehuruf pun. Kalaupun ada beda, Kompas menulisnya dengan “Terima Kasih” sedangkan Republika menuliskan dengan “TERIMA  KASIH”. Kompas menempatkan judul berita utama itu di atas foto utama, sedangkan Republika agak di bawah pojok kiri, di bawah foto utama lautan umat Islam yang tengah beraksi damai. Republika menempatkan foto Presiden Joko Widodo dengan space lumayan besar pada kolom kanan bawah. Kompas pun ada foto Presiden Joko Widodo persis di bawah foto utama.

Buat saya, ini kesamaan judul yang menarik. Kedua newsroom (ruang redaksi) koran ini dengan apik menempatkan satu frasa yang menarik sehingga merangsang orang untuk membeli koran itu dan membacanya.

Judul adalah etalase sebuah berita. Judul yang menarik punya kans besar dibaca orang. Judul pada headline koran punya peluang untuk menarik mata calon pembeli sehingga mendekati penjual koran dan membelinya satu eksemplar. Dalam noktah ini, Republika dan Kompas sama-sama pandai mencari angle yang menarik.

Judul yang semacam itu tentu bukan berdasar opini kedua media massa. Opini dalam ranah news, tak boleh masuk untuk dijadikan konten berita. Opini adalah halaman lain dalam ranah jurnalisme. Dan buat media massa, satu-satunya ruang untuk mereka beropini hanya ada pada rubrik tajuk.

Mengapa dua media massa itu kemudian mengambil angle “terima kasih” sebagai judul utama hari ini? Ada dua hal yang bisa diurai. Pertama, tentu saja dari objek massa yang berdemo. Jutaan massa yang melimpah itu adalah akumulasi kecintaan umat kepada Alquran yang diduga kita dinistakan Ahok dalam konteks Al Maidah ayat 51. Sungguh sulit mengatur orang sedemikian banyak itu. Pasti butuh banyak panitia untuk bisa me-manage jutaan massa dengan isi kepala yang berbeda. Sungguh sulit meninggalkan Silang Monas dan sekitarnya tanpa secuil pun sampah dengan luberan orang sebanyak itu. Juga bukan perihal yang gampang menjaga keteraturan sehingga tidak ada riak-riak yang kemudian boleh jadi ditunggapi provokator yang ingin Aksi Super-Damai 212 itu berujung rusuh.

Kita juga mungkin masih tak mempercayai ada peserta aksi massa yang berjalan kaki ratusan kilometer untuk sampai di Monas. Dan betapa banyak cerita dari kawan-kawan yang merasa langkahnya dihalangi untuk bisa ikut serta. Dari mulai bus carteran yang membatalkan bookingan sampai kapal laut yang enggan mengangkut padahal banyak ruang kosong di dalamnya.

Dengan beragam fenomena itu, khatimah aksi yang berakhir khusnul itu layak diapresiasi. Maka, frasa “terima kasih” yang dijadikan judul kedua koran ini layak dan pantas disajikan.

Kedua, kehadiran Presiden Joko Widodo. Saat aksi 4 November, Jokowi tak menemui massa yang sudah menunggunya di depan gerbang Istana. Namun, kali ini, Jokowi menyambangi jutaan rakyat Indonesia itu, bahkan ikut salat Jumat dengan khatib Habib Rizieq yang notabene membacakan khotbah yang isinya lekat kaitannya dengan kritik kepada pemerintah.

Beberapa teman saya di grup WhatsApp alumni SMAN 2 Bandar Lampung tahun lulus 1997, sejak kemarin pagi banyak yang “bertaruh”. Apakah Preisden Jokowi akan menemui massa atau bahkan pergi dinas ke luar Istana. Sebagian besar memprediksi, Jokowi tak bakalan hadir.

Namun, ternyata, sebagaimana kita saksikan bareng-bareng, mantan Gubernur DKI Jakarta itu datang ke Monas dan salat Jumat bersama jutaan rakyat Indonesia. Jokowi bahkan memberikan sedikit sambutan yang isinya mengapresiasi peserta aksi yang sudah membuktikan diri menjaga ketertiban, keamanan, kebersihan sehingga Aksi Super-Damai ini benar-benar berlangsung elegan dan nyaman.

Kedatangan Jokowi jelas mengejutkan. Tak hanya buat peserta aksi damai, lingkaran Istana pun kaget dengan keinginan mantan Wali Kota Solo ini untuk ikut salat Jumat bareng di Monas.

Jika dibandingkan dengan sikap Jokowi pada aksi pertama tanggal 4 November, kedatangan Jokowi kali ini memang menjadi unsur pembeda. Ini pulalah yang kemudian dibidik media massa sebagai angle yang menarik. Dan jika seluruh peserta aksi berterima kasih atas kedatangan Pak Presiden, rasanya sah-sah saja. Dan jika kemudian ini dinilai oleh media sebagai bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Presiden yang sudi hadir pada aksi damai dan salat Jumat bersama, juga hal yang wajar dan normal. Maka, pada noktah itulah konteks frasa “terima kasih” menjadi salah satu pertimbangan dijadikan judul utama. Mungkin maknanya: terima kasih para peserta aksi damai, terima kasih juga Pak Presiden Jokowi.

Yuk, kita sigi lagi isi dua media ini. Republika memang tampil allout dalam edisi 3 Desember ini. Halaman muka Republika bahkan tak berisi berita lain selain aksi damai itu. Satu halaman penuh adalah foto dan naskah. Naskahnya pun bukan berita. Senarai yang disajikan Republika pada bagian pojok kiri bawah adalah sambutan Presiden Joko Widodo saat memberikan sedikit “orasi” di depan khalayak peserta aksi damai.

Barulah di halaman dalam Republika menatahkan setiap angle-nya dalam artikel-artikel berita yang memikat dan multi-angle. Sebanyak 12 halaman Republika menurunkan pemberitaan soal aksi damai. Tagline hari ini yang dipilih redaksi koran ini adalah “Jaga Indonesia”.

Ada banyak angle yang ditulis, plus dua opini serta satu tajuk. Juga ada rubrik Resonansi yang ditulis pengarang kenamaan Indonesia, Asma Nadia, adik kandung pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) Helvy Tiana Rosa. Republika juga memanjakan pembaca dengan membuat parade foto sehalaman penuh. Cantik dan menarik sekali. Cantik dalam artian tata artistiknya yang memang ciamik, cantik pula dalam artian denotatif lantaran ada sosok TNI berjilbab yang ikut memberikan minum dan kudapan kepada ibu-ibu peserta aksi.

Bagaimana dengan Kompas? Koran yang didirikan duet lulusan Sekolah Seminari, Jacob Oetama dan PK Ojong, ini juga tampil apik. Soal parade foto, Kompas menampilkan di halaman kedua meski hanya separuh. Liputan khusus pun tidak diagendakan oleh Kompas. Kompas lebih menyarikan seluruh potret dalam aksi ke dalam satu headline-nya hari ini. Meski secara kuantitas jelas kalah ketimbang Republika, urusan mutu jurnalisme tetap dijadikan standar tersendiri oleh koran ini. Maka, kita akan membaca berita Kompas dari mulai halaman 1 dan bersambung  di halaman 15. Senarai yang ditatahkan para reporter dan kemudian disunting jajaran redakturnya lumayan enak dibaca. Catatan terakhir soal ini ialah Kompas membuat satu feature atau tulisan khas dan ringan soal di balik kedatangan Jokowi  ke Monas. Kompas menempatkan itu di halaman satu dengan judul feature “Ayo Pak JK, Kita Shalat di Monas…”

Feature ini tulisan human interest yang berisi paparan secara detail dan ringan. Tujuannya adalah mengikat pembaca untuk larut dalam bacaan itu sampai akhir. Untuk soal yang beginian, Kompas memang terbiasa.

Kejadian hari kemarin sebetulnya tidak hanya soal demo damai ini. Kemarin pagi kita juga dihebohkan dengan ditangkapnya beberapa tokoh dengan dugaan makar, antara lain Ratna Sarumpaet, Ahmad Dani, dan Sri Bintang Pamungkas. Ini juga berita baik. Apalagi ranahnya badnews. Namun, untuk media cetak seperti koran, yang space terbatas, redaksi mesti memilih angle yang pas. Jika kemarin, misalnya, Kompas mengambil angle soal dugaan makar sebagai berita utama halaman satu, itu tidak salah. Itu fakta dan cukup punya nilai berita. Alhamdulillah, media ini tetap memilih angle Aksi Super-Damai sebagai headline.

Buat kami di kalangan jurnalis, wabilkhusus yang mengikuti perkembangan literasi jurnalisme dunia, pasti hafal dengan nama Bill Kovach. Ia adalah wartawan senior di Amerika Serikat. Lulusan Harvard ini pernah menjadi Kepala Biro New York Times di Kota Washington DC, sebuah kota supersibuk di Amerika Serikat. Kovach juga pernah menjadi pemimpin redaksi Atlanta Journal Constitution, sebuah harian yang awalnya tak begitu dikenal tapi di tangan Kovach menjelma menjadi harian yang diperhitungkan. Bahkan, beberapa berita koran ini pernah meraih Pulitzer, penghargaan tertinggi nan bergengsi dalam ranah jurnalisme Negeri Paman Sam. Kovach kini menjadi kurator pada Nieman Fellowship yang segelintir jurnalis asal Indonesia, termasuk Gunawan Mohammad, pernah menjadi anak asuh Kovach.

Kovach kemudian bersama kompatriotnya Tom Rosenstiel, menulis buku The Element’s yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi 9 Elemen Jurnalisme. Buku ini lahir dari riset panjang  Kovach dan Rosenstiel. Mereka mewawancarai seribuan wartawan di Amerika Serikat, beberapa pakar jurnalisme, dosen, dan pemangku kepentingan lainnya. Mereka melakukan kajian, seminar, lokakarya, sehingga dirumuskanlah 9 poin ini.

Satu di antaranya adalah “jurnalisme harus menyajikan berita secara komprehensif dan proporsional”. Di noktah inilah, pisau analisis ala Kovach ini bisa kita ketengahkan melihat porsi pemberitaan media massa. Dan jika menilai dua surat kabar ini, mereka sudah melaksanakan apa yang “disabdakan” Kovach yang oleh beberapa jurnalisme sering disebut sebagai “Nabi Jurnalisme”. Saya pun demikian adanya. Ya ini hanya sekadar istilah, bukan pula lakon yang serius. Nanti jadi ramai pula. “Wah, Adian sekarang bukan agama Islam lagi. Agamanya sudah jurnalisme dan nabinya pun Bill Kovach”. Woles saja, hehehe.

Oh iya, cukup menggelitik juga soal Kompas ini sehingga ingin saya dedahkan agak dalam. Bukan apa-apa, koran ini kadang dipelesetkan menjadi “komando pastur” lantaran sikapnya yang mungkin bagi sebagian orang dinilai “anti-Islam”.

Kompas itu, sebagaimana saya cuplik di atas, didirikan oleh dua orang pintar calon pastur: Jacob Oetama dan PK Ojong. Khusus Ojong, saya secara jujur mengatakan, respek dengan beliau. Biografinya sudah saya baca beberapa tahun lalu. Pak Ojong tipikal penulis yang belajar otodidak. Tulisannya enak dibaca. Jika hendak membaca tulisan beliau, silakan membaca empat karya monumentalnya: Perang Eropa Jilid I, Perang Eropa Jilid II, Perang Eropa Jilid III, dan Perang Pasifik.

Nama Kompas itu bukan mereka yang memberikan. Sewaktu menghadap Bung Karno, Jacob Oetama ditemani Frans Seda, tokoh Partai Katolik yang juga menteri di kabinet. Ojong tak ikut karena namanya masuk “daftar hitam” penguasa. Ojong memang berani.

Saat menyerahkan dummy atau miniatur halaman kepada Bung Karno, Pahlawan Proklamasi  itu bertanya apa nama koran yang akan diterbitkan. Seda dan Jacob menjawab: Bentara Rakyat. Bung Karno tidak sreg dengan nama itu. Ia kemudian bilang.

“Aku akan pilihkan nama yang pas buat koran kalian ini.” Seda tanya lagi, apa namanya, Bung?

Soekarno menjawab: KOMPAS. Yang dimaksud Bung Besar ini adalah kompas penunjuk arah. 

Buat saya ini menarik. Ada latar sejarah di sini. Soekarno yang seorang nasionalis memberi nama Kompas kepada koran yang kelak di masa mendatang menjadi koran bertiras paling besar di Nusantara. Mungkin tak mengherankan jika kebijakan politik media massa seperti Kompas lebih nasionalis, dipadupadankan dengan keimanan transendental yang dipakemkan Ojong dan Jacob Oetama. Maklum, keduanya sempat mengenyam pendidikan sebagai calon pastur.

Ojong adalah orang baik. Sewaktu beberapa politikus ditahan, Ojong-lah yang mengirimi mereka buku-buku. Satu tokoh Islam yang waktu itu juga sering dikirimi buku adalah mantan Perdana Menteri asal Partai Masyumi, Muhammad Roem. Roem kemudian menjalin persahabatan hangat dengan Ojong. Sewaktu Ojong wafat dengan sebuah buku di tangannya, Roem bilang: Itulah tanda cara orang baik meninggal.

Kalau kemudian mereka mengajak beberapa penulis dan teman yang seagama, rasanya normal dan wajar. Toh kelak saat Kompas membesar, tak semua wadyabalanya beragama Katolik. Pemimpin redaksi koran ini sempat ada yang beragama Islam. Suryopratomo namanya. Kini ia di MetroTV. Mas Tomy, begitu Suryopratomo disapa, adalah lulusan Kompas dan ia beragama Islam.

Beberapa teman jurnalis pun di koran itu beragama Islam. Reporter koran ini di Lampung pun beragama Islam, juga berhijab. Vina Octavia namanya. Lulusan Unila dan sempat menjadi aktivis pers mahasiswa Teknokra.

Jika kemudian Kompas memang menempatkan angle pada poin yang bersifat nasionalisme atau pluralisme serta demokrasi, ada latar sejarah yang memicunya.

Beda dengan Republika yang saat awal pendiriannya, setahu saya, diinisiasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) semasa BJ Habibie menjadi Menristek era Presiden Soeharto. Saat itu sering disebut sebagai masa bulan madu antara umat Islam dengan Pemerintah Soeharto. Kalau kemudian media ini menjadikan umat Islam sebagai basis utama pembaca dan pembelinya, juga wajar. Terlebih sekarang media massa adalah industri yang sedapat mungkin mensinkronkan antara idealisme dan pragmatisme. Tetap menjaga muruah media massa dengan profesionalitas pada menjual dan memasarkan media massanya demi pemasukan untuk gaji karyawan dan operasional perusahaan.

Kembali ke pembahasan. Kompas dan Republika dalam konteks Aksi Super-Damai 212 sudah pas memberitakan ihwal itu dengan komprehensif dan proporsional. Mereka benar-benar menyajikan intisari berita sesuai dengan fakta di lapangan. Poin-poin yang ditulis menunjukkan betapa komprehensivitas dan proporsionalitas kedua koran itu dalam merekontruksi peristiwa di lapangan sudah baik.

Ada memang soal makar disebut, tapi porsinya tak sebesar persentase ihwal aksi damai. Dalam konteks media cetak yang melulu berkenaan dengan space, komprehensif dan proporsional ini memang mesti saksama. Sebab, dengan space yang terbatas, redaksi koran mesti mengetengahkan semua hal di dalamnya dengan memilih yang paling penting, paling menarik, paling baru, paling human interest. Syukurnya, dalam skup pemberitaan soal aksi kemarin, keduanya, menurut hemat saya, sudah pas.

Ringkasnya, pilihan kedua media massa ini sudah benar. Dan secara kebetulan, mereka mengambil frasa yang sama dalam hal judul “terima kasih”. Sebagai khatimah, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kompas, alhamdulillah jazakumullahu khoiro kepada Republika, dan syukron kepada semua peserta Aksi Super-Damai 212 kemarin. Dan kepada teman-teman yang sudi membaca dan syukur-syukur memviralkannya, saya pun menangkupkan tangan sebagai wujud terima kasih. Alhamdulillah jazakumullahu khoiro. Wallahualam bissawab.





About adian

Saya lahir di Tanjungkarang pada 27 Januari 1979. Waktu di SMAN 2 Bandar Lampung, saya pernah jadi ketua umum OSIS. Pernah bekerja di Harian Umum Lampung Post, Majalah Khalifah, KBR68H, duajurai.com, dan kini Pemred Jejamo.com. Beberapa buku saya: Setengah Abad Alzier, Menulis dengan Telinga, Menjaga Nama Baik (Biografi H Mursyid Arsyad SH), dan novel Ghandaru. Menikah dengan Sekar Sari Indah Cahyani dan dikaruniai dua putra: Nuh Muzaffar Quthuz dan Mirai Al Biruni

Check Also

Ilustrasi Amien Rais pada buku saya Menulis dengan Telinga. Ilustrasi dibikin teman saya Tri Purnajaya. | Dok Pribadi

Lima Menit Menahan Panas Bodi Mobil Tumpangan Amien Rais

Nama Amien Rais dalam beberapa hari belakangan mengemuka. Dalam berita yang kita simak di media …

6 comments

  1. Bapak masih simpen koran tersebut kah?

  2. Terima kasih Bang Adian sudah menulis ini dengan sangat apik

  3. Tulisan yang sangat keren dan mencerahkan.
    Ada dua pertanyaan dari saya, satu, alasan apakah Bung Karno memberi nama kompas? Apakah memang sama dengan yang didengung2kan, yaitu kumpulan pastor? Kalau iya, apakah Bung Karni kurang jeli memprediksi perkembangan media cetak di tanah air berpuluh tahun ke depan? dan apakah beliau menafikan mayoritas kita adalah muslim?

    Kedua, saya belum sempat simak Republika hari ini. Apakah Republika secara murni mrmunculkan kata terimakasih, ataukah ada bermakna sindiran halus di dalamnya? Mengingat Presiden hanya mengatakan itu tanpa mencoba membuka layar tentang tujuan dari aksi damai tersebut, adili sang penista? Sehingga Republika menampilkannya dalam huruf kapital? (Begitukah?)

    Salam,
    Fitri Restiana

    • Kompas yang dimaksud Bung karno adalah penunjuk arah. nanti saya tambahkan di naskah. Kalau Republika, memang sejak edisi 4-11 sudah pakai kapital semua. kalau menurut saya, terima kasih yang dimaknai republika kepada dua pihak: peserta aksi dan kehadiran Jokowi. republika lebih rinci karena ada 12 halaman penuh soal ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by griyawebhost.com